Wanita dalam Kebudayaan Jawa

Di susun guna memenuhi tugas Mata kuliah : Islam dan Kebudayan Jawa

Dosen Pengampu : Naili Anafah, SHI., M.Ag.

Disusun Oleh : Shohibul Ibad

IAIN WALISONGO 2010

A. Pendahuluan

Wanita sebagai hamba Allah, memiliki peran amat besar dalam kehidupan  bermasyarakat  dan  bernegara.  Tanpanya,  kehidupan  tidak  akan berjalan semestinya. Sebab ia adalah pencetak generasi baru. Sekiranya di muka bumi ini hanya dihuni oleh laki-laki, kehidupan mungkin sudah terhenti beribu-ribu  abad  yang  lalu.  Oleh  sebab  itu,  wanita  tidak  bisa  diremehkan  dan  diabaikan,  karena  dibalik  semua  keberhasilan  dan  kontinuitas  kehidupan,  di situ ada wanita.

Kemampuan berpikir antara laki-laki dan perempuan sesungguhnya tidak ada perbedaan. Kalau dilihat dari skor Inteligensi mereka tidak ada perbedaan yang penting, walaupun memang terdapat perbedaan yang subtansial pada beberapa kemampuan yang spesifik, berbakat laki-laki secara tipikal mempunyai skor yang tinggi pada kemampuan spasial-visual  dan matematik (mulai sekolah menengah), sedang remaja perempuan berbakat skor unggul pada skor pengukuran verbal.

Bagi setiap individu dalam perkembangannya tidak bisa dilepaskan dari suasana budaya tempat ia tinggal, aspek sosial dan budaya mempunyai pengaruh yang kuat dalam kompetensi seseorang, masyarakat akan memberikan dukungan pada perilaku yang diharapkan dan akan memberikan sangsi pada perilaku  yang dianggap  tidak tepat. Termasuk diantaranya adalah Kesulitan untuk mengembangkan diri bagi orang berbakat menjadi lebih besar pada perempuan dalam budaya Jawa, karena dalam budaya Jawa antara laki-laki dan perempuan mendapat perlakuan dan tuntutan yang berbeda, secara cukup menyolok. Maka dari itu perlu diperhatikan peran serta perempuan dalam membangun budaya.

B. Permasalahan

Dari pendahuluan diatas, pemakalah ingin memaparkan beberapa hal, diantaranya :

  1. Kedudukan wanita dalam kebudayaan Jawa
  2. Konstribusi wanita dalam budaya Jawa

C. Pembahasan

1. Kedudukan Wanita Dalam Kebudayaan Jawa

Aspek sosial dan budaya mempunyai pengaruh yang kuat dalam kompetensi seseorang, masyarakat akan memberikan dukungan pada perilaku yang diharapkan dan akan memberikan sangsi pada perilaku  yang dianggap  tidak tepat (Bloom, 1990).[1] Sesungguhnya menjadi seseorang yang berbakat yang tidak didukung oleh  lingkungan sosial (sebagai orang yang mempunyai kreativitas tinggi dan inteligensi tinggi) sebenarnya bukan sesuatu yang mudah, karena masyarakat Jawa lebih mengutamakan kepatuhan dan kesopanan pada seorang anak, atau menolak spontanitas  dalam mengungkapkan diri karena dianggap tidak etis. Sementara individu berbakat kurang bisa melakukan hal-hal yang konvensional, mereka suka pembaharuan, mempunyai ide banyak, dan punya interes yang bermacam-macam, bahkan kadang-kadang mereka nampak tidak konformis. Sementara seperti yang diungkapkan oleh Koentjaraningkat (1999)[2] bahwa dalam masyarakat Jawa mengutamakan tingkah laku dan adat sopan santun terhadap sesama dan sangat berorientasi kolateral dan mereka harus mengembangkan sikap tenggang rasa dan mengintesifkan solidaritas. Orang hidup harus sesuai dengan peraturan moral, harus mampu melawan dan menunda terpenuhinya kebutuhan diri, hal ini dapat menimbulkan konflik tersendiri bagi orang berbakat.

Kesulitan untuk mengembangkan diri bagi orang berbakat menjadi lebih besar pada perempuan berbakat dalam budaya Jawa, karena dalam budaya Jawa antara laki-laki dan perempuan mendapat perlakuan dan tuntutan yang berbeda, secara cukup menyolok. Keluarga dan masyarakat Jawa mempunyai pandangan dan harapan yang berbeda pada anak laki-laki dan perempuan. Pandangan ini mempengaruhi cara perlakuan masyarakat dan pengasuhan orangtua, yang telah mereka  tanamkan sejak mereka bayi. Pembagian peran dalam masyarakat yang berhubungan dengan hal-hal ‘apa yang boleh dilakukan’ dan ‘siapa yang boleh melakukan’ mempengaruhi pemahaman mengenai partisipasi masing-masing jenis kelamin dalam kehidupan bermasyarakat. Bahkan hal ini menjadi sangat kuat di bidang pendidikan, biasanya anak laki-laki mendapat prioritas pendidikan yang lebih tinggi, dengan anggapan anak laki-laki kelak akan mendapat pekerjaan, peran dan kedudukan yang tinggi, sementara anak perempuan kelak akan mengasuh anak dan mengurus rumah tangga (Goode, 1997). Hal yang  senada dikatakan juga oleh De Jong (1976) yang menuturkan bahwa seperti layaknya dalam keluarga Jawa, lingkungan keluarga dan masyarakat juga lebih memprioritaskan kesempatan dan fasilitas bagi anak laki-laki untuk mengembangkan kemampuannya daripada anak perempuannya.[3]

Di dalam budaya Jawa peran suami dan istri mempunyai batasan yang jelas. Peran suami tidak lepas dari perannya sebagai laki-laki. Peran produksi merupakan peran yang berhubungan dengan kegiatan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup, merupakan peran untuk mencari nafkah bagi keluarganya di luar rumah. Peran sosial adalah peran yang dibawa dan dimainkan oleh seseorang dalam masyarakat, peran tersebut berkaitan dengan hidup sosial pada umumnya, seperti peran-peran dalam hukum, pemerintahan, agama, kepemimpinan lain dalam masyarakat.  Sedang peran reproduksi adalah peran yang dimainkan oleh kaum perempuan. Peran ini berhubungan dengan kegiatan untuk mempertahankan dan melangsungkan kehidupan, tetapi tidak berhubungan dengan menghasilkan uang, misalnya melahirkan dan mengurus anak, memasak, dan mengurus anggota keluarga, membersihkan rumah dan lain-lain. Dengan adanya perbedaan peran tersebut, kaum istri atau perempuan menjadi lemah, bodoh, dan miskin. Kaum perempuan tidak mempunyai kekuasaan untuk ikut mengambil keputusan, karena posisinya secara sosial yang tidak menguntungkan tersebut, sehingga tidak jarang hal ini membuat mereka dalam posisi yang rapuh (Goode, 1997).

Perbedaan peran laki-laki dan perempuan ini masih dapat dirasakan hingga kini dalam masyarakat Jawa, dan ini merupakan faktor yang sangat berpengaruh pada menurunnya jumlah perempuan berbakat yang mampu mengaktualisasikan dirinya.  Tidak jarang perempuan yang telah bersekolah hingga tamat perguruan tinggi, akhirnya setelah menikah tidak dapat mengembangkan kemampuannya, karena ia memilih peran reproduksi saja. Kalaupun mereka bekerja mereka memilih bidang pekerjaan yang bisa diterima sesuai dengan perannya sebagai perempuan. Hal ini sudah mulai  nampak pada saat mereka diminta untuk menentukan pilihan bidang profesi yang ingin ia lakukan bila mereka bekerja, pertimbangan akan kepantasannya sebagai perempuan menjadi sesuatu yang penting. Akibatnya tidak sedikit  perempuan yang potensi dan bakatnya tersembunyi. Perempuan berbakat seringkali menjadi  underachievers, artinya ia tidak mampu berprestasi sesuai dengan kemampuannya. [4]

2. Konstribusi Wanita Dalam Budaya Jawa

Wanita sebagai hamba Allah, memiliki peran amat besar dalam kehidupan  bermasyarakat  dan  bernegara.  Tanpanya,  kehidupan  tidak  akan berjalan semestinya. Sebab ia adalah pencetak generasi baru. Sekiranya di muka bumi ini hanya dihuni oleh laki-laki, kehidupan mungkin sudah terhenti beribu-ribu  abad  yang  lalu.  Oleh  sebab  itu,  wanita  tidak  bisa  diremehkan  dan  diabaikan,  karena  dibalik  semua  keberhasilan  dan  kontinuitas  kehidupan,  di situ ada wanita. Diantara konstribusi wanita adalah :

  1. Peranan Wanita dalam keluarga

Wanita adalah guru pertama bagi sang anak, sebelum dididik orang  lain. Sejak  ruh ditiupkan ke dalam  rahim, proses pendidikan  sudah dimulai. Sebab mulai  saat  itu, anak  telah mampu menangkap  rangsangan-rangsangan yang dberikan oleh  ibunya.  Ia mampu mendengar dan merasakan apa yang dirasakan  ibunya. Bila  ibunya  sedih  dan  cemas,  ia  pun  merasakan  demikian.  Sebaliknya,  bila ibunya merasa senang, ia pun turut senang. Hingga anak itu lahir dan hingga anak itu tumbuh dewasa. [5]

b.  Wanita dalam upacara adat

Wanita dituntut untuk mengabdi dan berbakti, baik keluarga, masyarakat maupun bangsa. Ia sadar bahwa tanpa berkarya yang berarti seseorang tidak akan pernah bisa hidup dalam arti yang sebenarnya. Ia berpendapat bahwa karya sangat bermanfaat bagi kualitas hidup itu sendiri, idealisme, perkembangan ilmu pengetahuan, cinta, dan kasih sayang. Dengan berkarya dan bekerja akan tercapai masyarakat yang adil dan makmur, gemah ripah loh jinawi.[6]

Peran serta wanita dalam upacara adat sedikit banyak mempunyai andil dalam upacara adat. Diantaranya dalam upacara pewayangan, wanita berperan sebagai sinden, disitu wanita sebagai pendamping dalam untuk melantunkan tembang-tembang dalam pewayangan.

3. Hasil budaya wanita jawa dalam hal pakaian

Hasil kebudayaan kebendaan yang merupakan peranserta dari wanita yaitu pakaian. Pengetahuan menenun untuk membuat pakaian sudah dikenal sejak zaman kebudayaan Batu Baru atau Neolitikum dengan dtemukan alat-alat dari batu untuk pemukul kulita-kulita kayu untuk dijadikan serat yang kemudian ditenun.

Pada masa Hindu-Budha telah disebutkan bermacam-macam kain, juga dalam sastra kuno serta berita asing dalam pembuatan pakaian, baik dari bahan produksi sendiri atau impor. Para wanita kemudian mengolah kain itu dengan menenun ataupun membatik kain itu sehingga bisa dikenakan.

Setelah masuk Islam, kaum wanita memakai kain yang ditarik ke atas dan dililitkan dengan kuat untuk menutupi bagian dadanya. Di jawa dan Lombok, hingga bagi sarung yang dililitkan ialah selendang yang biasanya diletakkan diatas dada dengan kedua ujungnya dilepaskan di atas dada. [7]  

D. Kesimpulan

Kedudukan wanita dalam kebudayaan Jawa kurang begitu dihargai dan dihormati, dikarenakan wanita merupakan makhluk yang lemah dan tidak mempunyai keunggulan apa-apa. Dalam perkembanganya wanita mulai bisa membuktikan bahwa mereka bukan seperti yang diasumsikan, dan terbukti muncul perjuang pejuan wanita seperti Cut Nyak Dien, RA Kartini, dan lain-lain.

Konstribusi wanita dalam budaya Jawa :

  1. Peranan wanita dalam keluarga : guru pertama bagi sang anak.
  2. Wanita dalam upacara adat
  3. Hasil budaya wanita Jawa dalam hal pakaian
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s