Interelasi Nilai Jawa dan Islam dalam Bidang Kepercayaan dan Ritual

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Islam dan Budaya Jawa

Dosen Pengampu : Naily Anafah, M.Ag

Disusun Oleh: Fuzi rahmawati dan Moh khanafi


I. PENDAHULUAN

Sejarah Islam di Jawa berjalan cukup lama. Selama perjalanan tersebut, banyak hal yang menarik dicermati, dan terjadi dialog budaya antara budaya asli Jawa dengan berbagai nilai yang datang dan merasuk kedalam budaya Jawa. Proses tersebut memunculkan berbagai varian dialektika, sekaligus membuktikan elastisitas budaya Jawa. Pada saat agama Hindu-Budha datang, memunculkan satu varian dialektika bercorak Hindu-Budha dengan corak khusus pengaruh budaya India. Demikian juga saat islam datang dan berinteraksi dengan budaya jawa, melebur menjadi satu. Dalam hal ini ada dua corak yang tampak dipermukaan, yakni Islam mempengaruhi nilai-nilai budaya Jawa dan Islam dipengaruhi oleh budaya Jawa.[1]

Dalam kesempatan ini, penulis hanya akan membahas sedikit tentang interrelasi nilai jawa dan islamdalam bidang kepercayaan dan ritual.

II. PERMASALAHAN 

  1. Keyakinan yang berkembang dari hasil interelasi
  2. Respon Budaya Jawa Terhadap Islam
  3. Respon Islam terhadap budaya Jawa

 

III. PEMBAHASAN  

A. Keyakinan yang Berkembang dari Hasil Interrelasi

Setiap agama dalam arti seluas-luasnya tentumemiiki aspek fundamental, yakni aspek kepercayaan atau keyakinan, terutama kepercayaan terhadap sesuatu yang sakral, yang suci atau yang ghaib. Dalam agama Islam aspek fundamental itu terumuskan dalam istilah aqidah atau keimanan, sehingga terdapatlah rukun iman yang didalamnya terangkum hal-hal yang harus dipercayai/di imani oleh muslim.

Yang termasuk rukun iman adalah iman kepada Allah, iman kepada Malaikat, iman kepada para Nabi, iman kepada kitab suci, iman kepada hari akhir dan iman kepada qodho dan qodar. Namun demikian, diluar semua itu masih terdapat unsur-unsur keimanan yang lain yang juga harus dipercayai.

Kepercayaan-kepercayaan dari agama Hindu, Budha maupun kepercayaan animisme dan dinamisme dalam proses perkembangan Islam itulah yang berinterrelasi dengan kepercayaan-kepercayaan dalam islam.

Ritual-ritual yang dibuat atau dipakai orang –orang jawa islam yang masih disesuaikan dengan kebiasaan Hindu-Budha nya, yaitu seperti adat mitoni (memperingati 7 bulan kehamilan) memperingati orang mati dengan ritual doa seminggu, 40 hari, nyatos, nyewu dan mendak, ada adat selamatan, gerebek suro nyandran, kliwonan sedekah bumi, nyekar (ziarah kubur) dan masih banyak adat-adat kebiasaan islam lain yang dihubungkan dengan budaya hindu-budha.

Pada aspek ketuhanan, prinsip ajaran tauhid Islam telah berkelindan dengan berbagai unsur Hindu Budha maupun kepercayaan primitif. Sebutan Allah dengan berbagai nama yang terhimpun dalam asma` al husna telah berubah menjadi Gusti Allah, Gusti kang Murbeng Dumadi (al Khaliq), ingkang Maha Kuwaos (al Qadir), ingkang Maha Esa (al Ahad), ingkang maha suci, dll. nama-nama itu bercampur dengan nama dari agama lain, namun demikian, dalam kehidupan sehari-hari orang jawa lebih terbiasa dengan menyebut Gusti Allah, sehingga orang jawa sudah terbiasa mengucap ”Bismillah” ketika akan memulai pekerjaan apapun yang baik. Demikian juga ucapan “Ya Allah Gusti” ketika berdoa, “astagfirullah” ketika merasa kecewa dan lain sebagainya.

Namun, penghayatan tentang prinsip tauhid itu akan berbeda tatkala pemahaman tentang ketuhanan itu masuk dalam dimensi mistik bercorak pantheistic. Terdapatlah sebutan hidup (urip), sukma, sehingga Tuhan Allah disebut sebagai Hyang Maha Hidup, sukma kawekas yang mengandalkan bahwa tuhan sebagai dzat yang maha hidup, yang menghidupi segala alam. Berkaitan dengan sisa-sisa kepercayaan animisme dan dinamisme, kepercayaan mengesakan Allah itu sering menjadi tidak murni oleh karena tercampur dengan penuhanan terhadap benda-benda yang dianggap keramat, baik benda mati/ hidup.[2]

Kepercayaan terhadap mahluk jahat tidak saja ada pada agama Islam, tetapi juga ada dalam agama Hindu maupun kepercayaan primitif. Dalam Islam makhluk jahat itu disebut syaitan, yang dalam jawa disebut setan, dan pemimpin setan disebut iblis, ada juga jin yang termasuk dengan golongan jahat, tetapi ada yang dapat dimanfaatkan untuk membantu manusia, sedangkan pada agama hindu jenis mahluk jahat/roh-roh jahat sebagai musuh Dewa, antara lain warta musuh Dewa Indra.  Roh jahat yang lebih rendah derajatnya dari musuh dewa disebut raksa, yang bisa menjelma menjadi binatang/manusia dan roh jahat pemakan daging jenazah adalah picasa.

Menurut keyakinan islam, orang yang sudah meninggal dunia, ruhnya tetap hidup dan tinggal sementara di alam kubur/ alam Barzah, sebagai alam sebelum manusia memasuki alam akhirat, hanya saja menurut orang jawa, arwah orang-orang tua sebagai nenek moyang yang meninggal dunia berkeliaran disekitar tempat tinggalnya, atau sebagai arwah leluhur menetap di makam. Mereka masih mempunyai kontak dengan keluarga yang masih hidup sehingga suatu saat arwah itu nyambagi/ datang ke kediaman anak keturunan, roh-roh yang baik yang bukan roh nenek moyang/ kerabat disebut dayang, baureksa, atau sing ngemong. Dayang dipandang sebagai roh yang menjaga dan mengawasi seluruh masyarakat desa, dari sinilah kemudian timbul upacara bersih desa, termasuk membersihkan makam-makam disertai dengan kenduren maupun sesaji. Disisi lain atas dasar kepercayaan Islam bahwa orang yang meninggal perlu dikirimi do’a, maka muncul tradisi kirim dongo (do’a), tahlilan tujuh hari, 40 hari, setahun dan seribu hari.[3]

Suku-suku bangsa indonesia dan khususnya suku jawa sebelum kedatangan pengaruh Hinduisme telah hidup teratur dengan religi animisme- animisme sebagai akar spiritualitasnya dan hukum adat sebagai pranata kehidupan sosial mereka.Adanya warisan hukum adat menunjukkan bahwa nenek moyang suku bangsa indonesia asli telah hidup dalam persekutuan-persekutuan desa yang teratur, dan mungkin dibawa pemerintahan atau kepala adat desa.

Sebagian besar orang Indonesia mengaku beragama islam, sikap keagamaan sehari-hari yang mereka hayati, dijiwai dalam batinnya oleh agama alsi Indonesia yang kaya raya isinya, yang dipelihara dengan khusuk yang tidak mau dirombak oleh agama asing.

B. Respon Budaya Jawa Terhadap Islam

Islam di jawa tidak lepas dari peranan walisongo. Walisongo  adalah tokoh-tokoh penyebar islam di Jawa abad 15-16 yang telah berhasil mengkombinasikan  aspek-aspek sekuler dan spiritual dalam memperkenalkan islam pada pada masyarakat. Mereka secara berturut-turut adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Boning, Sunan Kalijaga, Sunan Drajad, Sunan Giri, Sunan Kudus sunan Muria, Sunan Gunung Jati. Wali dalam bahasa inggris pada umumnya diartikan sain, sementara songo dalam bahasa jawa berarti sembilan. Diduga wali yang dimaksud lebih dari sembilan, tetapi agaknya bagi masyarakat jawa angka sembilan mempunyai makna tersendiri yang cukup istimewa. Para santri jawa berpandangan bahwa walisongo adalah pemimpin umat yang sangat saleh dan dengan pencerahan spiritual religius mereka, bumi jawa yang tadinya tidak mengenal agama monotheis menjadi bersinar terang.

Pulau Jawa selalu terbuka bagi siapapun yang masuk. Orang jawa terkenal ramah sejak dulu dan siap menjalin kerjasama dengan siapapun. Termasuk ketika pedagang dan alim ulama` yang bertubuh tinggi besar, hidung mancung dan berkulit putih kemerahan. Mereka adalah para pedagang dan ulama` dari tanah timur tengah. kedatangan mereka ternyata membawa sejarah baru yang hampir merubah jawa secara keseluruhan.

Agama Islam masuk ke Jawa sebagaimana Islam datang ke Malaka, Sumatra dan Kalimantan.[4] Bukti berupa adanya nisan raja-raja Aceh yang beragama Islam menunjukkan bahwa Islam  telah barkembang di kesultanan Aceh pada abad ke13 M, jadi bisa diperkirakan mungkin Islam telah datang ke Indonesia sejak abad itu/bahkan sebelumnya.[5]

Agama tauhid ini telah berkembang di Jawa, kaum pedagang dan nelayan banyak terpikat oleh ajaran yang mengenalkan tuhan Allah SWT ini. Salah satu benda yang baru bagi orang jawa adalah nisan berukir kaligrafi seperti pada batu nisan di Leran, Gresik.pada batu nisan ini tertulis nama Fatimah binti Maimun wafat tahun 1082. Orang jawa sendiri pada zaman itu masih jarang memberi petanda batu nisan bagi orang ynag meninggal, apalagi yang mewah. Islam dijawa semakin meluas lagi seiring dengan para ulama` yang selalu giat menyebarkan agama Islam.[6]

Bagi orang jawa hidup ini penuh dengan upacara, baik upacara-upacara yang berkaitan dengan lingkungan. Hidup manusia sejak dari keberadaannya dari perut ibu, lahir, anak-anak, remaja, dewasa, sampai saat kematiannya atau upacara-upacara dalam kegiatan sehari-hari dalam mencari nafkah. Secara luwes islam memberikan warna baru pada upacara-upacara itu, diantaranya kenduren atau selametan, mitoni, sunatan dll.[7]

Di Jawa penyebaran agama Islam harus berhadapan dengan dua jenis lingkungan budaya kejawen, yaitu lingkungan budaya istana yang telah menjadi canggih dengan mengolah unsur-unsur Hinduisme dan budaya pedesaan (wong cilik) yang tetap hidup dalam animisme dan dinamisme dan hanya lapisan kulitnya saja yang terpengaruh oleh Hinduisme, dari perjalanan sejarah pengalaman di jawa tampak bahwa islam sulit diterima dan menembus lingkungan budaya jawa istana yang telah canggih dan halus itu. Namun ternyata islam diterima secara penuh oleh masyarakat pedesaan sebagai peningkatan budaya intelektual mereka.[8]

C. Respon Islam terhadap budaya Jawa

 

Agama Islam mengajarkan agar para pemeluknya melakukan kegiatan-kegiatan ritualistic tertentu, yang dimaksud kegiatan ritualistic adalah meliputi berbagai bentuk ibadah sebagaimana yang tersimpul dalam rukun Islam, yakni syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Khusus mengenai shalat dan puasa wajib di bulan ramadhan, terdapat pula shalat-shalat dan puasa-puasa sunnah. Intisari dari shalat adalah do’a oleh karena arti harfiah shalat juga do’a yang ditujukan kepada Allah SWT, sedangkan puasa adalah suatu pengendalian nafsu dalam rangka penyucian rohani.[9]

Sebagai institusi pendidikan, pesantren, adalah wujud kesinambungan budaya Hindu-Budha yang di islamkan secara damai. Lembaga GURU CULA juga ditemuka pada masa pra-Islam di Jawa. Lembaga ini pada saaat islam datang tidak dimusnahkan, melainkan dilestarikan dengan modifikasi substansi nuansa Islam.

Secara histiris, asal usul pesantren tidak dapat dipisahkan dari sejarah  pengaruh Walisongo abad 15-16 di Jawa. Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang unik di Indonesia.

Islam adalah agama damai yang tidak mengenal sistem kasta seperti pada masa Hindu-Budha. Namun pada realitanya terdapat beberapa golongan yaitu golongan santri, abangan dan priyayi. Walaupun sebenarnya golongan ini tidaklah untuk membedakan status sosial seseorang, namun penggolongan ini ada berdasarkan pemahaman mana yang lebih baik diantara mereka tentang Islam yang dianut di Jawa dahulu dan sekarang atau tingkat kekuatan mereka menjalankan ibadah agama Islam. Sebenarnya penggunaan istilah abangan, santri, dan priyayi dalam klasifikasi masyarakat Jawa dalam golongan agama adalah tidak tepat, karena ke tiga golongan yang disebutkan tadi tidak bersumber pada sistem klasifikasi yang sama karena hanya abangan dan priyayi yang termasuk dalam penggolongan dalam ibadah agama islam, sedangkan priyayi adalah suatu penggolongan sosial.[10]

Sebagian besar orang Jawa memeluk agama Islam, namun terdapat beberapa ragam dalam pengalaman ajaran Islam. Mereka mengaku orang Islam tetap dalam kategori umum, pengakuan semacam itu mereka sendiri dengan jelas membedakan antara para santri yaitu para orang muslim yang taatmenjalankan syariat dengan sungguh-sungguh dan para abangan yang tidak seberapa mengindahkan ajaran-ajaran Islam, sementara cara hidupnya lebih dipengaruhi oleh tradisi jawa pra Islam.[11]

Sedangkan priyayi menurut Robert Van Niel, terjadi dair para administrator, para pegawai sipil serta orang Indonesia yang agak baik pendidikannya dan agak berada, termasuk orang Jawa, baik di kota maupun di desa. Sampai ukuran tertentu mereka memimpin, mempengaruhi, mengatur/membimbing massa rakyat yang luas. Ia menyebut golongan ini elit. Adapun golongan priyayi mencakup paraanggota dinas administratif yaitu birokrasipemerintah serta para cendikiawan yang berpendidikan akademis. Mereka menempati kedudukan pemerintah dan tersusun menurut heirarki birokrasi mulai dair priyayi rendahan (seperti, juru tulis, guru sekolah, pegawai dll) sampai priyayi tinggi.[12]

Berbeda dengan stratifikasi horisontal, adapula klasifikasi masyarakat jawa yang didasarkan pada ukuran sampai dimana kebaktian agama islamnya/ukurankepatuhan seseorang dalam mengamalkan syariat. Pertama terdapat santri, orang muslim saleh yang memeluk agama Islam dengan sungguh-sungguh dan dengan teliti menjalankan perintah-perintah agama Islam sebagaimanayang diketahuinya sambil berusaha membersihkan akidahnya dari syirik yang terdapat didaerahnya. Kedua, terdapatlah abangan yang secara harfiah berarti ”yang merah”, yang diturunkan dari pangkal keatas abang (merah). Istilah ini mengenai orang muslim Jawa yang tidak seberapa memperhatikan perintah-perintah agama islam dan kurang teliti dalam memenuhi kewajiban- kewajiban agama. Cara hidupnya masih banyak dikuasai oleh tradisi pra Islam Jawa.

Jadi perbedaan antara santri dan abangan adalah diadakan bila orang digolongkan dengan mengarah kepada perilaku religiusnya, pengertian santri dan abangan dalam arti ini, dapat dianggap sebagai dua subkultur dengan pandangan dunia, nilai dan orientasi yang berbeda dalam kebudayaan jawa.  

IV. KESIMPULAN

 

 

 

Dari makalah diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Islam masuk di Jawa dengan cara damai yang diawali dari rakyat jelata hingga lambat laun masuk ke tingkat istana. Orang Jawa merespon dengan baik masuknya Islam ke Jawa. Karena Islam dengan mudah bersosialisasi dengan masyarakat Jawa. Orang-orang jawa terpikat dengan ajaran Islam yang mengenalkan ketauhidan/ keesaan Allah SWT. Islam bercampur dengan budaya Jawa karena Islam ditujukan untuk mempermudah penyebaran agamanya. Namun sampai saat ini budaya jawa masih melekat pada ajaran-ajaran islam yang masih sebagian besar dianut oleh orang jawa.

Islam di Jawa juga mengenal beberapa penggolongan tingkat ketaatan orang jawa dalam menjalankan ajaran Islam. Mereka disebut golongan santri dan abangan. Santri adalah golongan yang sangat taat pada syariat, sedangkan abangan adalah golongan masyarakat yang tidak terlalu memperhatikan perintah-perintah agama.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s