Pengalaman Harry Potter: Antara Fiksi dan Fakta

Harry Potter

Harry Potter dan Voldemort

OLEH LISMANTO

Pertama kali melihat filmHarry Potter, saya tersihir oleh nuansa animasi yang begitu luar biasa, indah, dan menakjubkan. Alur ceritanya mampu membawaku hanyut dalam dunia fiksi karya J. K. Rowling ini. Demikian halnya membaca novelnya, saya berkali-kali kagum dengan cerita dan dunia sihir yang dibangun Rowling mampu membangkitkan daya imajinasi.

Cerita bermula, Harry Potter lahir dalam pengalaman hidup yang amat kelam. Kedua orangtuanya, Lily dan James, dibunuh oleh Voldemort, penyihir hitam yang menjelma menjadi iblis penguasa kegelapan. Kita tidak bisa membayangkan, betapa sakit tercabik-cabik hati kita saat mengetahui orangtua kita dibunuh dengan kejam. Bersyukurlah kita punya orangtua yang sehat dan memperhatikan kita dengan penuh kebahagiaan.

Seiring berjalannya waktu, hidup Harry selalu dihantui ancaman dan kematian oleh para pelahap maut (pengikut Voldemort yang kejam, tega, dan bengis: dalam dunia fakta, magis seperti teluh, santet, guna-guna, seperti itulah pelahap maut). Hari-hari Harry selalu disesaki kegelapan tanpa secuil kebahagiaan, hingga pada titik kulminasi, Harry menyaksikan kematian Dumbledore (guru dan pengasuh yang sangat peduli melindungi Harry). Peristiwa yang menyayat hati. Bagaimana kita merasakan orang yang kita cintai terbunuh oleh musuh di hadapan kita? Seandainya saya punya kuasa, saya akan menancapkan pedang ke relung hati iblis macam seperti itu. Apalagi makam Dumbledore (orang terhormat) diporak-porandakan oleh Voldemort karena ingin mencuri tongkat sihirnya. Sungguh saya tak terima Dumbledore diperlakukan seperti itu.

Harry tak punya siapa-siapa lagi, kecuali temannya. Masa depannya tak jelas karena selalu dikejar gelapnya rasa jahat iblis Voldemort. Hingga suatu ketika Harry tawakal pada Tuhan, biarlah jika memang iblis jahat Voldemort menginginkan nyawanya, sehingga ia menyerahkan diri. Tawakal bagi saya adalah usaha terakhir setelah kita tak punya daya lagi. Maha Suci Allah, semoga Engkau menyertai jiwa-jiwa Harry Potter yang butuh penerangan di kegelapan yang amat pekat. Hanya Allah yang bisa melindungi kita saat kita kehilangan segalanya.

Di akhir cerita, Harry berhasil melepas kutukan kegelapan, meraih cahaya hidup, dan sukses menjadi orang besar. Meski orangtua, Dumbledore, dan orang-orang yang dicintai tak pernah melihat kesuksesan Harry, tapi cinta kasih mereka tak lekang oleh tempat dan waktu.

Memang suatu yang tak masuk akal memfaktualkan fiksi Harry Potter, tapi bagi sebagian orang yang punya kisah sama, akan memahami bahwa jika seseorang punya pengalaman kelam dan ingin keluar dari belenggu kegelapan, butuh perjuangan luar biasa menuju setitik cahaya.

Mirip dengan kisah seorang Pangeran berdarah terkutuk, ia punya darah keturunan terkutuk dan hidup di negeri terkutuk pula. Sementara Pangeran belum punya kekuatan apa-apa, ayahnya selalu dalam ancaman iblis dan pengikut-pengikutnya. Dari kisah fiksi, kita yang berada dalam kisah fakta akan tahu betapa sebuah perjuangan menuju cahaya kebahagiaan hakiki, keluar dari belenggu dan kutukan kegelapan, bukan hal yang mudah: antara hidup dan mati, mimpi dan realita, fana dan fakta. Semoga kita selalu dalam perlindungan dan rahmat Tuhan.

LISMANTO

Pengelola Omah Aksara Semarang

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s