Dinamika Islam Kebudayaan Jawa dalam Menghadapi Modernitas

1. PENDAHULUAN

 

Bangasa yang besar adalah bangsa yang  terus berpijak pada akr budaya, kemanapun bang sa tersebut berkembang. Apalah ariti nilai nilai adiluhung yang terkandung dalam budaya tersebut apabila kelak akan terhenti pada suatu generasi. Seberapa erat sang penerus menjaga akar kebudayaanpu akhirnya menjadi suatu factor tertentu kebesaran sebuah bangsa. Budaya jawa, sebagai satu dari sekian ragam budaya yang di miliki bangsa kita tengah berdiri menghadapi tantangan yang juga menjdi tantangan setiap budaya di dunia mordrnisasi.

Kita patut bersukur bahwa sejak dahulu budaya jawa tumbuh sebagai budaya yang memiliki sansibilitas dan fleksibilitas yang tinggi terhadp perubahan-perubahan di sekitarnya. Nilai-nilai serta pemikiran-pemikiran yang terkandung di dalamnya pun tak pernah langka oleh waktu, menjadikannya sebagi budaya yang kokoh menghadapi gerusan jaman. Namun, tentu itu semua tak lantas kita terbebas dari kewajiban kita dalam menjaga kelonggaran dalam budaya jawa.  

2. PERMASALAHAN

  1. pengertian mordenisasi
  2. kebudayaan jawa dan globalisasi
  3. modernisasi dalam budaya jawa  

3. PEMBAHASAN

A. Perngertian Modernisasi

Modernisasi diartikan sebagai perubahan-perubahan masyarakat yang bergerak dari keadaan yang tradisional atau dari masyarakat pra modern menuju kepada suatu masyarakat yang modern. Pengertian modernisasi berdasar pendapat para ahli adalah sebagai berikut.

Widjojo Nitisastro, modernisasi adalah suatu transformasi total dari kehidupan bersama yang tradisional atau pramodern dalam arti teknologi serta Organisasi sosial, ke arah pola-pola ekonomis dan politis.

Soerjono Soekanto, modernisasi adalah suatu bentuk dari perubahan Sosial yang terarah yang didasarkan pada suatu perencanaan yang biasanya dinamakan social planning.

Dengan dasar pengertian di atas maka secara garis besar istilah modern mencakup pengertian sebagai berikut.

  1. Modern berarti berkemajuan yang rasional dalam segala bidang dan meningkatnya tarat penghidupan masyarakat secara menyeluruh dan merata.
  2. Modern berarti berkemanusiaan dan tinggi nilai peradabannya dalam Pergaulan Hidup dalam masyarakat.
  3. kebudayaan Jawa Dan Globalisasi

sebagai pandangan dan sikap hidup, sama juga dengan suku-suku bangsa yang ada di Indonesia, kebudayaanpun bersentuhan dengan kebudayaan-kebudayaan lainnya. Persentuhan itu menimbulkan akulturasi budaya. Karena akulturasi budaya haruslah di pandang sebagai keniscayaan sejarah peradaban bangasa-bangasa dibelahan bumi manapun yang terpenting bagaiman kita memahami budaya jawa yang mana pula bukan budaya jawa, kemudian menghayati dan mengejawantahkan nilai nilai filosofis yang di kandungnya sebagai pengaruh positif dalam kehidupan.

Kebudayaan jawa di tengah arus globalisasi, masyarakat jawa pengusung kebudayaan jawa tidak bias tidak terbawa arus glombang masifikasi budaya-budaya dari etnik-etnik yang ada d Indonesia dan belahan bumi manasaja. Masyarakat pengusung budaya jawa haruslah dapat secara kreatif memaknai nativistic momentum, sehingga penetrasi budaya-budaya dari luar etnik, tidak sampai mengarus nilai-nilai kejawaan itu sendiri. Jika tidak ingin kebudayaan jawa tergerus glombang navistic moventum dari kebudayaan yang ada di muka bumi ini, haruslah tetap bertahan pada nilai-nilai luhur yang di kandungnya sembari mengadaptasi budaya-budaya yang ada di seitarnya, baik dalam ranah konsep maupun prilaku sehari-hari. Sebab, sesungguhnya nilai nilai filosofis budaya jawa jika di tafasirkan secara kreatif merupakan nilai-nilai yang universal.

Penghayatan Agama

Seret gartoloco, gagasan yang ada di dalamnya bersumber dari penghayatan terhadap agama. Bentuk hubungan antara manusia dengan tuhan. Dalam pemahaman jawa untuk mencapai penyatuan dengan tuhan yang di kenal dengan manunggalin kawulo gusti harus di tempuh dengan beberapa tahapan. Langkah pertama melaksanakan sembah raga, kemudian sembah cipta, sembah jiwa dan yang terakhir sembah rasa. Menempuh jenjang ini bagi penganut kejawen acap kali di terima masyarakat umum(awam) dalam konteks mistik. Padahal ajaran tasawuf didalam islam dikatakan bahwa untuk mencapai kehadirat tuhan di perlukan beberapa langkah seperti syari’at, thorikot, hakikaot dan ma’rifat. Dengan demikian terdapat kesetaraan dan kesamaan dari dalam mencapai hadirat tuhan. Inilah bukti adanya pencampuran atau akulturasi budaya local dengan budaya asing. Pemikitan dan pemahaman kejawen sangat didasarkan pada ajaran budi luhur. Manusia jawa diingatkan jangan sombong, congkak, atau sebagainya. Tapi yang terpenting haruslah adhap ashor.

Konsep Kepemimpinan

Konsep kepemimpinan jawa pun sesungguhny sangat universal, terutama bila kita merujuk kepada budaya (tradisi) abad ke-17 tentang kebudayaan jawa kuno. Prinsip kepemimpinan jawa yang universal tergambar dari ungkapan yang di populerkan perguruan taman siswa; ing ngarso sung thulodo, di depan memberi contoh/teladan, ing madyo mangun karso yang di tengah memberi semangat dan tutwuri handayani yang di belakang memberi bimbingan.

Konsep dan falsafah ini, jika di terapkan akan mengantarkan anak bangsa kekehidupan sejahatera dan lahir batin. Karena itu langkah sayangnya bila kita mengabaikan kearifan tradisionala yang sangat kaya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Persoalannya bagai mana kita memperlakukan hal-hal yang tekstual menjadi kontekstual artinya kebudayaan yang tidak di pandang sebagai benda mati, melainkan sesuatu yang hidup dan akan terus berdialektika di dalam kehidupan.

Sangat Kaya

Menurut WS. Rendra dalam bukunya ‘ mempertimbangkan tradisi’ tradisi jawa sebenarnya sangat kaya. Karena itu, rendra menyayangkan masyarakat jawa yang tidak bias (mau) bergaul baik-baik dengan tradisi itu, sehingga jadi benalu tradisi. Karena itu, pekerjaan-pekerjaan kebudayaan di Indonesia akan menemui kesulitan apabila masyarakatnya tidaka bersikap kreatif terhadap tradisi. Padhal tradisi bukanlah benda mati tetapi sesuatu yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan kehidupan. Tradisi di ciptakan oleh manusia untuk kepentingan hidup dan bekerja, tapi tradisi yang popular dewasa ini adalah tradisi yang kaku.

Dari Mana Mau Kemana

Hidup bagi orang jawa adalah sebuah perjalanan, ungkapan yang sangat umum menggambarkan pandangan hidup orang jawa adalah sangkan paraning dumadi (dari mana mau kemana kita). Bagi orang jawa hidup di dunia ini harus memahami dari mana ‘asal’ akan kemana ‘tujuan’ perjalanan hidup dengan benat kasampuraning dumdi (kesemurnaan tujuan hakikot ). Mereka masyrakat jawa mengartikan kata ‘jawa’ bermakana ‘mengerti/paham’. Oleh karena itu di dalam keseharian sering terdengar masyarakat melontarkan ungkapans seperti: ‘durung jowo’ (belum paham), ‘wis jawa’ (sudah paham), atau wis ora jawa (berubah sombong karena menjadi kaya/ punya pangkat).

Bagaimana cara kita menanggulangi jman globalisasi tersebut salah satunya adalah intropeksi diri, oleh karena itu, perlunya di tingkatkan tameng diri agar tidak terbawa kearah kebobrokan, yaitu dengan kita menggunakan filsafat jawa. Sehingga jangan samapai orang jawa kehilangan kepribadiannya.

Adapun potensi falasafah jawa yang dapat digunakan sebagai tameng diri adalah sebagai berikut

  1. ajining diri saka lathi, ajining seliro soko busana artinya nilai diri seseorang terletak pada gerakan lidahnya, nilai badaniah seseorang terletak pada pakaiannya. Harga diri seseorang terletak pada ucapannya.
  2. aja dhumuko, aja gumun, aja kagetan, artinya jangan sok, jangan mudah terkagum kagum, jangan mudah terkeut.
  3. aja dhumeh, tepo seliro, ngerti kuwalat artinya jangan merasa hebat, tergantung rasa, tahu karma. Dimanapun kita berada, jangan merasa hebat, berbuat semaunya.
  4. sugih tanpa bandha, digdoyo tanpa aji, ngalurung tanpa bala, menang tanpa ngasarake artinya kaya tanpa harata, sakit tanpa azimat, menyerang tanpa bala tentara, menang tanpa merendahkan.
  1. Mordernisasi Dalam Budaya Jawa

Kebudayaan adalah hasil berfikir dan merasa manusia yang terwujut dalam kehidupan sehari-hari. Wujud budaya tidak lepas dari situasi tempat dan waktu di hasilkannya unsure waktu tersebut. Oleh karenanya dalam kebudayaan dikenal adanya perubahan, dengan terjadinya globalisasi di era modern ini ada unsure budaya local yang memiliki nilai universal dan di temukan pada bangasa-bangsa yang ada di belah dunia lainnya.

Dalam proses perubahan kebudayaan ada unsure-unsur kebudayaan yang mudah berubaha dan yang sekar berubah berkaitan dengan hal ini, linthon membagi kebudayaan menjadi inti kebudayaan kovertkultur dan perwujudan kebudayaan overtkultur bagi initi terdiri dari system budaya keyakinan keagamaan yang di anggap kramat, beberapa adapt yang telah mapan dan telah tersebar luas di masyarakat. Bagian init kebudayaan sulit berubah seperti agama adatiadat maupun system nilai budaya. Sementara itu wujud kebudayaan yang merupaan bagian luar atau fisik dari kebudayaan seperti alat-alat atau benda hasil seni budaya mudah untuk berubah.

Dengan menggunakan kerangka teori tersebut maka nilai budaya jawa isalam sulit berubah dimasa modern ini k arena berkaitan dengan keyakinan keagamaan dan adat istiadat. Dalam konteks terjadinya perubahan kearah mordenesasi yang merciri nasionalistis, matrealistis , legaiter maka nilai budaya jawa di harapkan pada tantangan bdaya global. Diantara nilai keuniversalan itu terletak pada nilai spiritual yang relegius magis. Nilai yang releius magis pada era modern ini juga di temukan pada budaya-budaya bangasa dinegri ini, tidak terbatas pada budaya jawa . maka nialai ini tamak akan hidup di masyarakat menganutnya karena adanya berbagi factor penyebab antara lain nilai spiritual jawa yang sinkretis, yang dalam realitsnya tidak mudah hilang dengan munculnya rasionalisasi diberbagi segi kehidupan karena di perlukan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup yang muncul di abat modern. Namun, dalam kenyataannya masyrakat, ada adapt istiadat jawa yang telah mengalami pergeseran sehingga di pandang tidak memiliki nilai magis lagi, tetapi sekedar bernilai seni. Misalnya, rangakaian upacara dalam perkawinan.

Kehidupan spiritual di era modern ini secara umum memang tampak mengalami peningkatan, termasuk di kalangan masyarakat jawa. Hal ini di sebabkan karena sebagian besar orang muali merasa pengaruh negative dari budaya modern yang hanya menonjolkan logika dan materi, tetapi kering dari nilai spiritual. Mereka cenderung mengutamakan hal yang bersifat materi dan rasional., tetapi melupakan nilai social dan batiniah. Sejalan dengan hal itu, maka banyak orang merindukan keetenangan batin dan larilah mereka ke ajaran agama dan kehidupan spiritual termasuk spiritualitas jawa islam, yang mulai banyak dilirik kembali oleh masyrakat modern. Kehidupan spiritual di butuhkan pula oleh manusia modern di saat terjadi persaingan ketat yang menuntut profosionalisme dan kualitas tinggi di berbagai bidang. Hal ini menyebabkan banya orang yang sters, dan mereka mencari ketenangan batin, di antaranya dengan kembai pada tradisi spiritual jawa islam yang sinkretis. Tidak mengherankan jika di era moderen ini upacara yang sejak dulu telah mengakar di masyarakat, yang bersifat religius magis banyak dilakukan lagi, seperi ruwatan untuk membuang sial.

Dilihat dari kebutuhan masyrakat modern terhadap nilai optima, maka budaya fisik. Menurut linton, budaya fisik terletak pada wilayah overt culture yang memang mudah berubah. Dalam realitasnya, beberapa nialai budaya islam seperti seni, ilmu pengetahuan, teknologi dan gaya hidup, telah mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan masyrakat modern.

Sesuai dengan tuntutan masyarakat modern, unsure budaya jawa islam dalam beberapa bidang memang memerlukan reinterprestasi agar sesuai dengan perubahan yang terjadi pada msyarakat. Misalanya ungkapan-ungkapan yang selama ini di tangkap secara tekstual tidak sesuai lagi, perlu di beri pemakanaan rasional. Seperti selogan alon-alon waton kelakon. Ungkapan ini sering dikaitkan dengan etos kerja dan sikap orang jawa yang  terkesan selalu lambat. Untuk masa sekarang, hal ini tentu tidak cocok lagi karena dalam kehidupan modern di tuntut adanya efisiensi waktu sehingga pekerjaan perlu dilakukan secara cepat dan tepat.

Selain itu perlu dilakukan rekontruksi agar kesan feodalisme yang melekat pada budaya jawa, seperti tata karma yang menerapkan hierarki bahasa, dapat di ubah dlam bentuk yang egaliter. Karena di era modern orang tidak lagi di batesi oleh sekat-sekat budaya sehingga menginginkan penggunaan bahasa yang berlaku nasional atau internasional. Di samping itu, prinsip egaliter dalam kehidupan social kemasyarakatan mulai di dengungkan di semua lapisan masyarakat. Oleh karena itu, penggunaan bahasa karma inggil yang mencerminkan setrata social masyrakat tidak perlu dipaksakan pemakaiannya. Yang penting, secara subtansial nilai sopan santun berbicara dan bertingkah laku yang terdapat dalam budaya jawa islam tetap di lestarikan, walaupun dalam format bahasa nasional atau internasional.

Masalah pembangunan dan mordernisasi

Suatu kelemahan dari mentalitet rakyat pedesaan dijawa, yang akan menjadi penghambat besar dalam hal pembangunan, adalah sikapnya yang pasif dalam hidup. Kesukaan orang jawa terhadap gerakan-gerakan kebatinan, penilaian tinggi yang dinyatakan terhadap konsep nerimo, ketabahan yang ulet dalam hal yang menderita, tetapi yang lemah dalam hal yang kaya, mereflesikan mentalitet tersebut di atas. Rupa-rupanya tekanan kekuasaan terhadap raja-raja dan bangsawan-bangsawan feudal dari zaman kejayaan kerajaan-kerajaan jawa dahulu, kemudian tekanan kekuasaan pada pemerintah-pemerintah kolonal yang telah mempunyai efek yang dalam terhadap rakyat petani di jawa.

Tekanan jumlah penduduk yang sudah mulai naik dengan laju yang cepat sejak satu abad di daerah pedesaan di jawa, teapi yang tersa secara nyata sesuadah zaman perang dunia kedua. Sesudah tentu merupakan juga salah satu maslah besar penghambat pembangunan. Dengan tanah yang terpecah-pecah kecil, dan kemudian masih juga harus di pecah-pecah lagi untuk dapat di bagikan kepada orang-orang desa dengan cara adol ayodan, adol sende, bagi hasil, dan sebaginya, maka sukar orang dapat menghasilkan surplus, yang dapat di tanam sebagi modal untuk pembangunan. Tiap-tiap produksi lebih seolah olah menghilang lagi dalam sekejap mata, karena harus di agi rata antara puluhan orang tetangga di desa yang ikut membantu pada panen (istimew bawon), atau dalam aktivitas-aktivitas gotong royong lainnya. Demikian agar sampai dapat terbentuk surplus utuk disisihkan dan di tanam sebai modal, orang desa jawa tidak perlu hanya melipat gandakan produksinya dua kali saja, tetapi tiga emat kali lebih. Hal ini hanya mungkin kalo cara-cara bercocok tanam yang lama di tinggalkan dan intensifikasi produksi di capai dengan pemakaian bibit unggul yang baru, dengan pemupukan secara.

Adapun pemakaian teknik teknik baru tidak hanya dalam pertanian, melainkan dalam seluruh kehidan masyarakat desa, yang seperti terurai diatas bersikap terlampau pasif terhadap hidup. Pokoknya rakyat harus di gerakan untuk pembangunan, tetapi usaha menggerakan rakyat memerlukan kepemimpinan aktif yang tidak hanya harus mempunyai pengetahuan dan pendidikan cukup banyak, tetapi juga harus memiliki daya aktivitas dan inisiatif untuk membuat inovasi-inovasi.

Struktur masyrakat di jawa yang asli, sudah terlanjur dirusak oleh struktur administrative yang di tumpangkan di atanya oleh pemerintah colonial, sejak lebih dari satu abat lamanya. Demikian sebagi akibat dari itu, masyrakat desa di jawa tidak mengenal kesatuan-kesatuan social dan organisasi adapt yang sudah mantap, yang dapat berbuat kreatif sendiri. Hal ini berbeda misalnya dengan organisasi-organisasi seperti banjar atau subak di bali, suatu daerah yang baru di kuasasi oleh pemerintah colonial sejak permulaan abad ke-20 ini, sehingga masih dapat mempertahankan bentuk bentuk organisasi asli yang sudah mantap itu. Organisasi administrative yang di tumpangkan dari atas biasanya di kepalai orang-orang yang berjiwa pegawai, yang sering tak suka memikul tanggung jawab sendiri, dan hanya bias menunggu perintah diatas.

Masyrakat desa yang membutuhkan pimpinan yang bersifat kreatif itu, biasanya juga tidak dapat mrnghasilkan tokoh-tokoh serupa itu sendiri karena banyak dari putra putrinya yang telah mendapat pendidikan sekolah tidak suka tinggal didesa, tanpa adanya perangsang yang menarik.

Sesudah uraian tersebut di atas, teranglah bahwa masih ada banyak penghambat dalam hal melaksanakan pembangunan masyarakat desa di jawa. Di antaranya masalah-masalah penghambat yang paling penting adalah:

  1. mentliter orang jawa yang terlalu menerima dan bersifat pasif  terhadap hidup
  2. tekanan penduduk yang telah menyebabkan rakyat pedesaan dijawa itu menjadi keliwat miskin
  3. tak adanya organisasi-organsasi asli yang telah mantap yang jika di mordernisasi dapat menjadi organisasi mayrakat yang aktif dan kreatif
  4. tak adanya kepemimpinan desa yang aktif kreatif dapat memimpin aktifitas produksi yang bias memberi hasil tiga empat kali lebih dari pada sekarang tiap-tiap tahun. Semua masalah tersebut memang kita dapat mengerti, tetapi amat sukur untuk diatasi dalam waktu yang singkat.

4.  KESIMPULAN

Kebudayaan jawa yang mendapat gelar adi luhung, sangat berpengaruh di seluruh plosok nusantara bahkan di kawasan regional asia tenggara, kebudayaan jawa menempati posisi yang sangat vital. Penyebab orang jawa di berbagi benua pasti membawa tradisi dan adapt istiadatnya. Oleh kaena itu, kebudayaan jawa secara aktif menyesuaikan diri dengan arus golonalisasi. Perkembangan IPTEK yang semakin ngerisi dan cenderung kejam dan tidak manusiawi dalam era globalisasi ini, kian mendesak budaya tradisi. Akibatnya kearifan social dan nialai-nilai luhur budaya di tinggalkan, dan jati diri bangsa menjadi mudar.

Manusia jawa memiliki budaya dan identitas secara jelas, dan identitas budaya itu sebagai cirri khas yang di mulai sejak jaman kerajaan. Akan tetapi, di jaman sekarang identitas tersebut telah banyak berubah seiring dengan adanya pengaruh budaya luhur, sehingga budaya jawa mengalami erosi. Maka muncullah istilah ”wong jawa ilang jawane” aritinya banyak orang jawa yang kehilangan identitas primernya seperti : filsafah ungguh unguh (saling menghormati), tradisi budaya, penggunaan bahas, dsb. Oleh karena itu kita harus eling lan waspada sesuai dengan falsafah jawa. Dunia berkembang kita ikut berkembang tapi tidak meninggalkan kepribadian diri (harga diri).

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Interelasi Nilai Jawa dan Islam

INTERELASI NILAI JAWA DAN ISLAM

        I.            PENDAHULUAN

Sebagai agama dakwah, Islam tidak berhenti dan berada di luar kehidupan nyata manusia, tetapi masuk keseluruh segi kehidupannya. Keberadaan Islam dalam masyarakat muslim baik individu maupun sosial bersifat unik. Hal ini karena Islam tidak berusaha membentuk kebudayan yang sama. Dapat kita lihat bahwa masyarakat Islam di suatu daerah dengan daerah yang lainnya tidak selalu memiliki produk kebudayaan yang seragam (sama). Islam telah memberikan peluang kepada pemeluknya untuk memelihara dan menegembangkan kebudayaan–kebudayaan masing–masing, sepanjang tidak menyalahi dan melenceng jauh dari prinsip–prinsip Islam sendiri.

Masyarakat Jawa dipercaya memiliki kebudayan yang khas, dan masyarakat yang menjunjung tinggi sifat–sifat luhur dan kebudayaan ( termasuk berbagai macam seni, sastra dan kepercayaan ) yang dimilikinya.

Di Indonesia, kebudayaan Jawa merupakan salah satu kebudayaan lokal yang berpengaruh penting karena dimiliki sebagian besar etnik terbesar di Indonesia. Nilai–nilai Islam memiliki arti penting bagi kebudayaan Jawa karena mayoritas masyarakat Jawa beragama dan memeluk agama Islam. Dengan demikian hubungan nilai–nilai Islam dengan kebudayaan Jawa menjadi menarik karena keberadaan Islam dan kebudayaan Jawa yang cukup dominan pada bangsa Indonesia.

 

II.            PERMASALAHAN

Dalam makalah ini akan di bahas beberapa materi mengenai :

a.       Arti Interelasi

b.      Interelasi antara nilai-nilai Islam dengan nilai Jawa

c.       Cakupan Interelasi Islam Jawa

 

III.            PEMBAHASAN

A.     Arti Interelasi

Interelasi merupakan kata yang adopsi dari bahasa Inggris sehingga dari  kamus bahasa Inggris dapat di ketahui bahwa “interrelation : mutual or reciprocal relation or relathness”[1] yang berarti hubungan antar manusia. Jadi interelasi adalah hubungan atau keterkaitan. Maka interelasi antara nilai Jawa dan Islam merupakan keterkaitan antara dua nilai tersebut, sehingga yang nantinya itu menimbulkan akibat-akibat yang terjadi karena adanya hal tersebut yang saling berhubungan seperti adanya pengaruh-pengaruh dalam bahasa, sastra, arsitektur, dsb.

 

B.     Interelasi Antara Nilai-Nilai Islam Dengan Nilai Jawa

Perkembangan agama Islam di Indonesia yang berlangsung secara evolutif telah berhasil menanamkan akidah Islamiah dan syari’ah shahihah, memunculkan cipta, rasa, dan karsa oleh pemeluk-pemeluknya. Sebelum kedatangan Islam, masyarakat telah memeluk agama yang berkembang secara evolutif pula, baik dari penduduk asli (yang menganut animisme, dinamisme, veteisme, dan sebagainya) maupun pengaruh dari luar (Hindu-Budha). Yang menarik, unsur-unsur budaya yang bertentangan dengan nilai-nilai kepatutan tersingkir dengan sendirinya, sedangkan yang baik yang mengandung unsur-unsur kepatutan dan kepantasan, hidup secara berdampingan.[2]

Pengaruh Islam terhadap kehidupan (pembinaan moral) bangsa Indonesia berkisar antara tiga kemungkinan. Yang pertama ialah ajaran Islam berpengaruh sangat kuat terhadap pola hidup masyarakat. Kedua, Islam dan budaya (moral) bangsa berimbang, sehingga merupakan perpaduan yang harmonis. Terakhir, ajaran (moral) Islam kurang berpengaruh, sehingga merupakan perpaduan yang ikut menyempurnakan moral bangsa. Ketiga kemungkinan perpaduan itu dapat terjadi di komunitas-komunitas muslim di berbagai tempat di Indonesia. Akulturasi ajaran-ajaran tersebut, akulturasi adalah  suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing.[3] yang kemudian berkembang menjadi kebudayaan yang dapat dikelompokkan menjadi tiga: (1) Kebudayaan yang didominasi oleh budaya Islam yaitu akulturasi antara dua budaya Islam dan non-Islam, tetapi yang paling menonjol ialah budaya Islam. Hal ini dapat dilihat dalam ritual-ritual Islam seperti; peralatan yang digunakan pada waktu salat (sajadah, tasbih, dan sebagainya), kelembagaan zakat, wakaf, dan pengurusan pelaksanaan haji; (2) Kebudayaan yang terdiri dari percampuran antara kedua budaya seperti; bangunan masjid, bentuk joglo, pakaian pria ataupun mahramah untuk wanita, lagu, kasidah, tahlil, dan sebagainya; (3) Percampuran kebudayaan yang membentuk pola atau corak kebudayaan tersendiri ialah; sistem pemerintahan (Pancasila), sistem permusyawaratan, dan berbagai pemikiran yang timbul dari berbagai macam pergerakan dan sebagainya.[4]

Sewaktu Islam masuk ke tanah Jawa, masyarakatnya telah memiliki kebudayaan tersendiri. Jadi sewaktu Islam masuk maka terjadi percampuran antara islam dan kebudayaan jawa itu yang oleh masyarakat di sebut nilai budaya jawa. Seiring berjalannya waktu maka kebudayaan itu mengalami perubahan dan perkembangan yang hasilnya dapat kita lihat pada masyarakat jawa yang sampai sekarang banyak yang masih bisa dirasakan seperti : masjid yang dipengaruhi model rumah jawa (joglo), dsb.

Dalam proses penyebaran Islam di Jawa ini ada 2 pendekatan mengenai bagaimana cara yang ditempuh supaya nilai-nilai Islam dapat di serap menjadi bagian dari budaya jawa. Yang pertama : Islamisasi kultur jawa mulai pendekatan ini budaya jawa diupayakan agar tampak bercorak islam baik secara formal maupun secara substansial yang ditandai dengan penggunaan istilah-istilah islam, nama-nama islam, pengambilan, peran tokoh islam pada berbagai cerita lama, sampai kepada penerapan hukum-hukum, norma-norma islam dalam berbagai aspek kehidupan. Pendekatan kedua : Jawanisasi islam, yang diartikan sebagai upaya penginternalisasian nilai-nilai islam melalui cara penyusupan kedalam budaya jawa. Maksudnya disini adalah meskipun istilah-istilah dan nama-nama jawa tetapi dipakai, tetapi nilai yang dikandungannya adalah nilai-nilai islam sehingga islam menjadi men-jawa. Berbagai kenyataan menunjukkan bahwa produk-produk budaya orang jawa yang beragama silam cenderung mengarah kepada polarisasi islam kejawaan atau jawa yang keislaman sehingga timbul istilah jawa atau islam kejawen. Sebagai contoh pada nama-nama orang banyak dipakai nama seperti Abdul Rahman, Abdul Razak, meskipun orang jawa menyebutnya Durahman, durajak. Begitu juga penggunaan sebutan jawa In Pandum yang pada hakekatnya terjemah dari tawakal dan lain-lain.[5]

Sebagai suatu cara pendekatan dalam proses penyebaran Islam di Jawa, kedua kecenderungan itu merupakan strategi yang sering diambil ketika dua kebudayaan saling bertemu. Apalagi pendekatan itu sesuai dengan watak orang jawa yang cenderung bersikap moderat serta mengutamakan keselarasan. Akan tetapi, persoalan yang sering muncul dan sering menjadi bahan perbincangan dikalangan para pengamat adalah makna yang terkandung dari percampuran kedua budaya tersebut. Mereka memiliki penilaian yang berbeda ketika dimensi keberagaman orang islam jawa termanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari, sebagian mereka menilai bahwa percampuran itu masih sebatas pada segi-segi lahiriyah sehingga islam seakan hanya sebagai kulitnya saja, sedangkan nilai-nilai esensialnya adalah jawa. Sementara itu, sebagian yang lain menilai sebaliknya dalam arti nilai islam telah menjadi semacam ruh dari penempatan budaya jawa kendatipun tidak secara konkret berlabel islam.

C.     Cakupan Interelasi Islam Jawa

Dari interelasi Islam dan jawa itu mempunyai pengaruh yang sangat besar, dalam berbagai aspek-aspek yang sampai sekarang masih bisa di rasakan, antara lain :

1.      Interelasi nilai jawa dan Islam dalam aspek kepercayaan dan Ritual

Dalam agama islam aspek fundamental terumuskan dalam aqidah atau keimanan sehingga terdapatlah rukun iman yang harus dipercayai oleh orang muslim. Kemudian dalam budaya jawa pra islam yang bersumberkan pada ajaran hindu terdapat kepercayaan adanya para dewata, terhadap kitab-kitab suci, orang-orang (para resi), roh-roh jahat, lingkaran penderitaan (samsara), hukum karma dan hidup bahagia abadi (moksa) dan juga upacara sunatan. Upacara ini dilakukan pada saat anak laki-laki dikhitan. Dalam pelaksanaan khitan itu masyarakat mempunyai ciri yang berbeda-beda. Ada yang melaksanakan khitan antara usia empat sampai delapan tahun, dan pada masyarakat lain dilaksanakan ketika anak berusia antara 12 sampai 14 tahun. Pelaksanaan khitan sebagai bentuk perwujudan secara nyata mengenai pelaksanaan hukum islam, sunatan atau khitanan ini merupakan pernyataan pengukuhan sebagai orang islam. Karena itu sering kali sunatan disebut selam, sehingga mengkhitankan dikatakan nyelameken, yang mengandung makna mengislamkan (ngislamake).[6]

2.      Interelasi nilai jawa dan Islam dalam aspek sastra

Dengan adanya sastra yang berbentuk puisi, ceritra, atau prosa yang mengandung nilai moral, sehingga hasil sastra ini juga dipakai sebagai sarana penyebaran Islam.

3.      Interelasi nilai jawa dan Islam dalam aspek arsitektur

Di lihat dari bangunan-bangunan masjid, misalnya : pada bangunan menara masjid Kudus yang dibangun oleh Sunan Kudus. Bentuknya menyerupai meru pada bangunan Hindu. Lawang kembar pada bangunan utama masjid dan pintu gapura serta pagarnya berciri khas Hindu.  Bentuk bangunan khas Jawa tercermin pula dari bentuk atap yang bertingkat atau bertumpang (dua atau tiga) dengan pondasi persegi. Pondasi persegi ini, sisinya tepat berada pada arah mata angin. Bentuk bangunan dengan model atap tingkat tiga diterjemahkan sebagai lambang keislaman seseorang yang ditopang tiga aspek, yaitu iman, islam, dan ihsan.[7]

4.      Interelasi nilai jawa dan Islam dalam aspek kesenian

Hasil dari aspek kesenian salah satunya terlihat dalam wayang. Wayang itu  mempunyai fungsi sebagai tontonan dan juga berfungsi sebagai tuntunan karena di dalam ceritra kisah pewayangan itu juga banyak mengandung nilai moral.

5.      Interelasi nilai jawa dan Islam dalam aspek bidang politik

Hal ini sangat terlihat pada pemberian gelar pada raja-raja jawa Islam di Jawa seperti Sultan, kalifatullah sayyidin panatagama, tetunggul khalifatul mu’minin, dsb.

6.      Interelasi nilai jawa dan Islam dalam aspek pendidikan

Adanya  pesantren yang merupakan lembaga pendidikan Islam di Jawa atau di luar Jawa yang muncul dari pengaruh-pengaruh Walisongo abad 15-16 di Jawa.

7.      Interelasi nilai jawa dan Islam dalam perspektif ekonomi

Slametan yang diadakan sebelum usaha di mulai merupakan ajaran perencanaan agar semua input dan unsur – unsur menejemen dipertimbangkan. Sedangkan slametan yang dilaksanakan setelah atau pada akhir melakukan usaha ekonomi mengajarkan tentang iman kepada Tuhan (terutama dengan ucapan syukur dan bukti rasa syukur kepada Tuhan atas segala karunia dan rizqi yang telah dilimpahkannya) dan juga merupakan ajaran perencanaan untuk perawatan dan penggunaan.

 

 

IV.            KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat diambil simpulan bahwa :

  • Interelasi adalah hubungan atau keterkaitan
  • Ada 2 pendekatan mengenai bagaimana cara yang ditempuh supaya nilai-nilai Islam dapat di serap menjadi bagian dari budaya jawa.

1.      Islamisasi kultur jawa

Mulai pendekatan ini budaya jawa diupayakan agar tampak bercorak islam baik secara formal maupun secara substansial yang ditandai dengan penggunaan istilah-istilah islam, nama-nama islam, pengambilan, peran tokoh islam pada berbagai cerita lama, sampai kepada penerapan hukum-hukum, norma-norma islam dalam berbagai aspek kehidupan.

2.      Jawanisasi islam

Yang diartikan sebagai upaya penginternalisasian nilai-nilai islam melalui cara penyusupan kedalam budaya jawa. Maksudnya disini adalah meskipun istilah-istilah dan nama-nama jawa tetapi dipakai, tetapi nilai yang dikandungannya adalah nilai-nilai islam sehingga islam menjadi men-jawa.

  • Interelasi nilai jawa dan islam ini mencakup berapa aspek antara lain kepercayaan dan ritual, sastra, kesenian, arsitektur, politik, pendidikan dan perspektif ekonomi.
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Hubungan Budaya Jawa dan Islam Pengaruhnya Terhadap Politik di Indonesia

HUBUNGAN BUDAYA JAWA DAN ISLAM PENGARUHNYA TERHADAP POLITIK DI INDONESIA

             I.      PENDAHULUAN

Orang jawa adalah orang yang religius, sejarah membuktikan bahwa sejak sebelum islam dating kejawa mereka sudah mempunyai perhatian yang besar terhadap agama. Hamper setiap kerajaan meninggalkan tempat-tempat pemujaan, misalnya  candi-candi bagi umat hindu dan masjid-masjid bagi umat islam.[1]

Masyarakat jawa juga mengalami perubahan struktur yang mana perubahan itu dibagi menjadi empat tingkatan, yaitu para raja, bupati, kepala desa dan rakyat jelata. Raja menjadi kedudukan yang tertinggi,raja berkuasa karena ia dianugerahi wahyu kedaton ( wahyu khusus bagi calon raja ) oleh tuhan yang katanya yang dinyatakan dalam bentuk cahaya. Mungkin sekali konsep-konsep mengenai kedudukan raja ini berakar dari kebudayaan hindu. Walaupun pada zaman mataram banyak mengambil konsep-konsep dari agama islam terutama dari segi mistik. Mistik islam dijadikan dasar  untuk menjelaskan hubungan antara rakyat dan raja. Menurut praktek mistik sufi tujuan manusia yang tertinggi adalah untuk bersatu dengan tuhan atau Manunggaling Kawula Gusti.[2]

Inilah yang kemudian menyebabkan orang jawa memilih pemimpin bukan atas dasar pilihan rasional tetapi emosional. Oleh karena itu charisma lebih penting dari pada kemampuan dalam memimpin. Wajar jika pemimpin kharismatik lebih disukai dari pada pemimpin yang rasional.[3]

          II.      PERMASALAHAN

Berbicara masalah politik tentu tidak akan lepas dari masalah pemerintahan ataupun kehidupan bernegara. Sebelum islam datangpun pemerintahan sudah ada dengan adanya kerajaan-kerajaan hindu yang telah mempunyai struktur kenegaraan yang terorganisir, namun apakah berbeda antara sebelumnya masuknya islam dan setelahnya? Berikut ini akan dibahas tentang :

1)      Kedatangan Islam Dan Pengaruhnya Terhadap Politik

2)      Sinkretisme Politik Jawa Islam

       III.      PEMBAHASAN

a)      Kedatangan Islam Dan Pengaruhnya Terhadap Politik

 Vleke, sebagaiman yang ditulis oleh frans magnis suseno menulis bahwa waktu marco polo dengan ayah serta pamannya tinggal bebrapa bulan disumateera utara utusan kubali khan pada tahun 1292, ia mencatat bahwa sebuah kota pesisir yang bernama perlak baru saja memeluk agama islam. Pada tahun 1414 kerajaan malak yang didirikan dipantai barat Malaya pada abad XIV masuk agama islam. Kesultanan malaka menjadi pusatpenyebaran agama islam sampai direbut oleh kaum portugis pada tahun 1551. peddagang-pedagang dari arab dan Gujarat juga orang jawa yang berkedudukan di malaka , membawa agama islam kekota-kota pelabuhan pantai utara pulau jawa. Makam muslim pertama dijawa berasal dari tahun 1419.  pada saat yang sama kekuasaan majapahit semakin merosot. Penguasa-penguasaa kota pesisir utara seperti cirebon, tuban, jepara, gresik dan kemudian madiun dipedalaman memeluk agama islam.[4]

Menurut legge agama islam menjadi menarik bagi kota-kota pesisir dari dua segi. Disatu pihak sebagai lambang perlawanan terhadap majapahit dilain pihak karena agama islam merupakna alternatife terhadap keseluruhan pandangan dunia hindu . islam berhadapan muka dengan allah tanpa adanya imamat perantara atau ritual yang ruwet. Islam mempunyai suatu ajaran kesamaan yang sangat ampuh untuk mencairkan tatanan hirarkis masyarakat majapahit.

Vleke masih menunjuk pada segi lain “ berabadd-abad lamanya pangeran-pangerran jawa telah terbiasa untuk memahami kegiatan-kegiatan religius untukmenambah tenaga batin atau kekuatan gaib mereka “. Dapat dimengerti bahwa mereka melihat agama islam dalam cahaya yang sama. Pengaruh agama baru yang besar diseluruh asia tenggara membuktikan relevansinya yang ampuh. Namun mereka tidak menerima islam begitu saja. Ada dua keuntungan ketika mereka memeluk islam yaitu mereka akan menjadi sama kedudukan rohaninya dengan lawan-lawan potensial yang beragama islam dan mereka juga dapat memperoleh bantuan kekuatan-kekuatan muslim yang sama terhadap lawan-lawan mereka yang bukan islam. Jadi memeluk agama islam tidak dengan sendirinya mesti merupakan suatau pemutusan hubungan sama sekali dengan masa lampau hindu jawa, melainkan dapat diintegrasikan tanpa kesulitan yang terlalu besar, keddalam usaha jawa tradisional untuk menmabah kekuatan-kekuatan gaib.[5]

Dalam hubungan ini menguntungkan bagi agama islam bahwa kedatangannya kejawa bukan dalam bentuk murni sebagaimana beberapa abad kemudian dipelopori oleh kaum wahabi di arab. Melainkan melalui Gujarat di India dan dalam bentuk yang sangat dipengaruhi oleh sufisme, mistik islam. Oleh karena itu agama islam tanpa kegoncangan-kegoncangan besar dapat diterima dan diintegrasikan kedalam pola budaya,social, dan politik yang sudah ada. Kepercayaan baru mendapat pewaris-pewaris penting dalam diri kyai-kyai dari kaum ulama. Mereka memprtahankan sebagian besar kebudayaan hindu jawa ( dalam traddisi jawa pewarta-pewarta agama islam, para wali, bahkan sebagian dianggap sebagai penemu wayang dan gamelan ) dan ciri agama islam mencocokkannya tanpa kesulitan kedalam pandangan dunia jawa tradisional. Dari proses integrasi itu lahirlah kebudayaan santri jawa, kebudayaan itu semula terbatas pada kota-kota utara jawa,tetapi lama kelamaan melalui pedagang-pedagang dan tukang-tuknag, juga mulai berakar dalam kota-kota lain dan akhirnya juga dibeberapa daerah pedalaman jawa.

Pada akhir abad XVIII hampir seluruh pulau jawa secara resmi beragama islam, tetapi dengan intensitas yang berbeda. Pusat ialam yang paling besar adalah kota-kota pesisir utara, disitulah titik berat kebudayaan santri.juga dalam semua kota dipedalaman jawa terdapat kampung-kampung santri . kebudayaan santri tersebut berhadapan dengan kebudayaan keraton dan pedalaman jawa. Walaupun keraton secara resmi memeluk agama islam, tetapi  dalam gaya kehidupan pengaruh tradisi hindu-jawa lebih menonjol. Krato-kraton itu menjadi pusat kebudayaan jawa klasik dengan tari-tarian dan pertunjukkan wayang dengan gamelan dan dengan ritual keagamaan yang memang diadakan pada hari-hari raya islam besar. Tetapi yang isinya berasal dari zaman hindu-jawa. Agama islam dianggap sebagai salah satu persiapan untuk memperoleh kesatuan yang ilahi dan apabila kesatuan itu telah tercapai, bentuk persiapan itu dianggap tidak begitu penting lagi. Dikraton-kraton khususnya di surakarta berkembanglah kesusastraan mistik yang sangat dipengaruhi oleh mistik islam islam. Tetapi pada hakekatnya bersifat heterodoks .[6]

Pedalaman jawa semula hamper tak tersentuh oleh agama islam. Hanya dimana terdapat pesantren yang sering terbentuk disekitar seorang kyai yang terpandang, kehidupan santri berpancaran kedesa-desa sekeliling. Dikebanyakan desa tidak ada masjid, hanya ada seoarng kaum yang diperlukan untuk pernikahan, pemakaman, dan do’a pada permulaan kenduren. Para kesatria dari cerrita Ramayana dan mahabarata sampai sekarang bagi orang-orang desa lebih terkenal dibandingkan dengan para wali.

Pada akhir abad XIX situasi itu lama-kelamaan semakin berubah. Sementara itu tanah jawa seluruhnya dikuasai oleh belanda. Sejak permulaan culturstelsel rakyat didesa semakin tertekan secara ekonomis karena dipaksa secara bergiliran untuk menanam tananman yang akan diekspor di tanah mereka sendiri. Karena belanda  dalam rangka politik indirectt menyerahkan pelaksanaan penarikan upeti kepada elite priyayi dalam negeri. Elite itu dalam pandangan masyarakat dihubungkan dengan penjajah. Juga kepala desa, lurah, semakin menjadi wakil pemerintah colonial terhadap warga-warga desa.barang kali identifikasi elite-ellite pribumu dengan kekuasaan penjajah menjadi salah satu alasan mengapa pengaruh kyai-kyai dan ulama-ulama islam dalam beberapa wilayah daerah semakin besar dan mereka sejak semula termasuk musuh kaum penjajah yang paling tak terdamaikan.

Dilain pihak hubungan yang semakin besar dengan Negara-negara timur tengah terutama sesudah pembukaan terusan suez pada tahun 1869, mengakibatkan suatu gerakan pembaharuan dalam agama islam Indonesia sendiri . orientasi  kealam kebudayaan arab bertambah dan kesesuaian berbagai unsure adat dan kebudayaaan jawa yang sebelumnya diterima begitu saja dalam kebudayaan santri dengan kemurnian agama islam semakin dipersoalkan. Mistik jawa yag memang heterodoks, tetapi memandang diri sebagai ungkapan keagamaan islam, dditolak sebagai bukan islam lagi. Dengan sendirinya polarisasi antara aliran kebudayaan santri dan aliran yang tetap berpegang pada kebudayaan jawa semakin terasa. Kalau yang pertama berusaha untuk melaksanakan murni ajaran agama islam ( sebagaimana dipahami antara lain di mesir melelui pengaruh Muhammad abduh ), maka kaum priyayi dan rakyat jawa lain semakin menyadari kekhasan kejawaan mereka dan mulai ddengan sadar memelihara kebudayaan dari masa lampau mereka. Apa yang sampai saat itu hanya merupakan dua cara hidup dengan tekanan yang berbeda semakin menjadi ungkapan dua sikap yang memang berlawanan.hal yang oleh Robert Jay disebut dengan skisma santri abangan mulai tampak.

Tendensi itu masih diperkuat oleh gerakan kebangkitan nasional pada abad XX. Organisais nasional yang masih belum bersifat politik, Budi Utomo dari tahun 1908 bertujuan memajukan cita-cita kebudayaan jawa. Pada tahun 1913 dibentuk pengelompokkan politik petama dengan nama sarikat islam. Dalam waktu sepuluh tahun dalam tubuh sarikat islam terjadi konfrontasi antara yang berpedoman agama isalam dan yang berpedoman komunis. Yang berakhir dengan kelompok komunis meninggalkan sarikat islam.sejakitu organisasi politik di Indonesia berkembang menurut garis islam dan abangan. Sesudah proklamasi kemerdekaan tahun 1945, polarisasi itu beberapa kali mengakibatkan krisis yang berat.. sejak semula terdapat unsure-unsur islam radikal yang menolak republic Indonesia yang baru lahir sebagai kafir. Pada tahun 1950 kelompok itu dibawah pimpinan kartosuwiryo orang asal jawa timur memulai suatu pemberontakan dibawah bendera darul islam di jawa barat, yang meluas sampai ke aceh dan sulawesi selatan. Dan yang sisa-sisanya baru tertumpas habis sekitar tahun 1960-an.

Betapa mendalam perbedaan antara kelompok-kelompok yang berpedoman jawa dan yang bepedoman islam dalam masyarakat jawa dapat diamati oleh Clifford Geetz dan Robert Jay pada waktu mereka mengadakan penelitian di jawa timur  pada permulaan tahun lima puluhan  . jay menceritakan bagaimana dalam des ataman sari tempat dia tinggal, dua dukuh sebelah barat laut beraliran islam ortodoks, sedangkan dukluh-dukuh timur dan selatan beraliran jawa.padahal dukuh-dukuh ini merupakan satu kompleks perumahan sebesar dua kali satu kilometer. Hubungan kedua ddesa itu semakin jelek sehingga penduduk desa yang bergaul dengan kedua belah pihak dicurigai oleh rekan-rekan sedukuh sendiri dan orang yang pergi kekota lebih suka memakai jalan yang lebih jauh dari padda harus lewati dukuh yang beraliran lain.

Pertentangan itu dipertajam oleh politisasi masyarakat jawa dalam tahun lima puluhan yang semakin jadi. Partai-partai politik selalu sdengan jelas memihak pada salah satu sebelah perpecahan religius itu. Dalam usaha untuk mencari bassis masa mereka sampai ke desa-desa yang paling terpencil sehingga pertentangan religus dengan segala ketajamannya juga masuk ke dalam kesadaran orang desa sederrhana.

Apakah perpecahann itu berdasarkan pada suatu perbedaan principil dalam system nilai, demikian kecondongan Clifford Geetz atau sebagai mana menjadi pendapat beberapa sosiolog islam, hanya merupakan tingkat-tingkat dalam islamisasi yang berbeda yang dipertajam dengan alasan politik, tidak mengubah kenyataan yang juga diterima oleh kedua belah pihak bahwa antara dua orientasi itu memang terdapat perbedaan yang tampak juga dalam kekuatan lahiriah.[7]

b)      Sinkretisme Politik Jawa Islam

 Simbol sinkretisme politik jawa islam tampak mencolok pada gelar-gelar raja di jawa islam seperti gelar sultan, kalifatullah sayyidin panatagama, tetunggul khalifatul mu’minin , susuhunan dan sebagainya. Gelar ratu tetunggul khalifatullah dipakai oleh sunan Giri  ketika menjadi raja padda masa transisi antara dari kerajaan Majapahit ke kerajaan islam demak . Sunan Giri berkuasa dalam keadaan vakum. Pada masa ini tidak ada pimpinan yang berdaulat , baik dari raja hindu maupun islam . kerajaan Majapahit yang hindu telah runtuh sedangakan kerajaan islam yang nantinya kerajaan Islam Demak belum berdiri. Sunan Giri hanya berkuasa dalam waktu empat puluh hari pasca keruntuhan Majapahit tahun 1478 M oleh serangan seorang raja   Grinderawardhana  dan Keling Kediri. Setelah masa peralihan (40) hari ini, Sunan Giri menyerahkan kedaulatan kepadda raja islam yang permanent yaitu Raden Fatah. Dialah raja kerajaan Islam Demak.[8]

Ada beberapa analisis mengapa Sunan Giri yang seorang wali berkenan menjadi raja pada waktu itu, padahal dia bukan  keturunan raja. Pertama, mengkhiaskan dengan nabi Yusuf AS yang juga bukan keturunan raja, tetapi naik tahta, mereka memproklamasikan diri sebagai raja dalam keadaan sudah ada raja karena mengibaratkan diri mereka pada nabi Musa AS yang menamakan diri sebagai raja menandingi kerajaan Fir’aun. Seorang muslim tidak boleh mengambil seorang kafir menjadi pimpinan.

Kedua, para wali khususnya sunan giri nampaknya berkeyakinan bahwa tidak baik suatu komunitas tanpa pemimpin , entah pemimpin itu mukmin ataupun kafir. Umat yang berpemimpin lebih baikbahkan jika pemimpin itu dzalim sekalipun. Jika diruntut pada masa klasik islam, Ibnu Taimiyyah  sebagai mana dikutip oleh Fazlur Rahman, pernah mengatakan bahwa enam puluh hari dibawah pemimpin yang dzalim masih lebih baik dari pada satu malam tanpa pemimpin.Ibn Khaldun dalam muqadimahnya juga mengatakan bahwa menyangkut suatu pemimpin bagi suatu komunitas itu wajib.

Ketiga Sunan Giri hanya mengantarkan keadaan transisi menuju berdirinya kerajaan Islam Demak. Buktinya dia hanya berkuasa 40 hari, setelah keadaan mapan kekuasaan diberikan kepada Raden Fatah yang masih keturunan raja Brawijaya Kertabumi. Jadi jika kemudian para wali yang suci tampil sebagai penguasa Negara atau pemimpin politik itu hanya bermotifkan Yekti Mung Amrih Ayu bukan tujuan dan tugas pokok mereka. Sebagai mana nabi Muhammad menjadi kepala Negara disamping menjadi Rasul.tugas wajib beliau adalah menyampaikan risalah bukan pemimpin politik adapun kalau kemudian beliau diangkat sebagai pemimpin Negara adalah karena kemampuan beliau dalam memimpin diakui oleh umat, baik muslim maupun non muslim ketika itu.[9]

Simbol sinkrtitisme politik islam jawa juga terdapat pada raja-raja jawa yang dipegang Sri Sultan Hamengkubuwono, istilah sultan dari bahasa arab sulthan yang berarti raja atau penguasa menjadi istilah dalam kerajaan-kerajaan islam diarab padda masa lalu. Sri Sultan Hamengkubuwono selain sebagai raja ( kekuasaan politik ) juga sebagai sayyidin panatagama ( pemimpin agama ). Dengan demikian raja yogya juga Islam karena tidak mungkin non islam menjadi sayyidin panatagama, sebab yang dimaksud dengan sayyidin panatagama disini adalah panatagama untuk islam . inilah strategi pollitik jitu dari para pendahulu kita. Suatu proses islamisasi dengan cara yang amat arif, cultural, walaupun sinkretis.[10]

Dalam konstalasi perpolitikan nasional Indonesia sinkretisme politik jawa islam tetap berlangsung khususnya pada rezim Soeharto.simbol-simbol  dan istilah jawa menjadi simbol-simbol poltik nasional

 

        IV.      KESIMPULAN

Simbol sinkretisme politik jawa islam tampak mencolok pada gelar-gelar raja di jawa islam seperti gelar sultan, kalifatullah sayyidin panatagama, tetunggul khalifatul mu’minin , susuhunan dan sebagainya.

Ada beberapa analisis mengapa Sunan Giri yang seorang wali berkenan menjadi raja pada waktu itu, padahal dia bukan  keturunan raja. Pertama, mengkhiaskan dengan nabi Yusuf AS yang juga bukan keturunan raja, tetapi naik tahta. Kedua, para wali khususnya sunan giri nampaknya berkeyakinan bahwa tidak baik suatu komunitas tanpa pemimpin Ketiga Sunan Giri hanya mengantarkan keadaan transisi menuju berdirinya kerajaan Islam Demak

Simbol sinkrtitisme politik islam jawa juga terdapat pada raja-raja jawa yang dipegang Sri Sultan Hamengkubuwono. Dalam konstalasi perpolitikan nasional Indonesia sinkretisme politik jawa islam tetap berlangsung khususnya pada rezim Soeharto.simbol-simbol  dan istilah jawa menjadi simbol-simbol poltik nasional. [11]

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Wanita dalam Kebudayaan Jawa

Di susun guna memenuhi tugas Mata kuliah : Islam dan Kebudayan Jawa

Dosen Pengampu : Naili Anafah, SHI., M.Ag.

Disusun Oleh : Shohibul Ibad

IAIN WALISONGO 2010

A. Pendahuluan

Wanita sebagai hamba Allah, memiliki peran amat besar dalam kehidupan  bermasyarakat  dan  bernegara.  Tanpanya,  kehidupan  tidak  akan berjalan semestinya. Sebab ia adalah pencetak generasi baru. Sekiranya di muka bumi ini hanya dihuni oleh laki-laki, kehidupan mungkin sudah terhenti beribu-ribu  abad  yang  lalu.  Oleh  sebab  itu,  wanita  tidak  bisa  diremehkan  dan  diabaikan,  karena  dibalik  semua  keberhasilan  dan  kontinuitas  kehidupan,  di situ ada wanita.

Kemampuan berpikir antara laki-laki dan perempuan sesungguhnya tidak ada perbedaan. Kalau dilihat dari skor Inteligensi mereka tidak ada perbedaan yang penting, walaupun memang terdapat perbedaan yang subtansial pada beberapa kemampuan yang spesifik, berbakat laki-laki secara tipikal mempunyai skor yang tinggi pada kemampuan spasial-visual  dan matematik (mulai sekolah menengah), sedang remaja perempuan berbakat skor unggul pada skor pengukuran verbal.

Bagi setiap individu dalam perkembangannya tidak bisa dilepaskan dari suasana budaya tempat ia tinggal, aspek sosial dan budaya mempunyai pengaruh yang kuat dalam kompetensi seseorang, masyarakat akan memberikan dukungan pada perilaku yang diharapkan dan akan memberikan sangsi pada perilaku  yang dianggap  tidak tepat. Termasuk diantaranya adalah Kesulitan untuk mengembangkan diri bagi orang berbakat menjadi lebih besar pada perempuan dalam budaya Jawa, karena dalam budaya Jawa antara laki-laki dan perempuan mendapat perlakuan dan tuntutan yang berbeda, secara cukup menyolok. Maka dari itu perlu diperhatikan peran serta perempuan dalam membangun budaya.

B. Permasalahan

Dari pendahuluan diatas, pemakalah ingin memaparkan beberapa hal, diantaranya :

  1. Kedudukan wanita dalam kebudayaan Jawa
  2. Konstribusi wanita dalam budaya Jawa

C. Pembahasan

1. Kedudukan Wanita Dalam Kebudayaan Jawa

Aspek sosial dan budaya mempunyai pengaruh yang kuat dalam kompetensi seseorang, masyarakat akan memberikan dukungan pada perilaku yang diharapkan dan akan memberikan sangsi pada perilaku  yang dianggap  tidak tepat (Bloom, 1990).[1] Sesungguhnya menjadi seseorang yang berbakat yang tidak didukung oleh  lingkungan sosial (sebagai orang yang mempunyai kreativitas tinggi dan inteligensi tinggi) sebenarnya bukan sesuatu yang mudah, karena masyarakat Jawa lebih mengutamakan kepatuhan dan kesopanan pada seorang anak, atau menolak spontanitas  dalam mengungkapkan diri karena dianggap tidak etis. Sementara individu berbakat kurang bisa melakukan hal-hal yang konvensional, mereka suka pembaharuan, mempunyai ide banyak, dan punya interes yang bermacam-macam, bahkan kadang-kadang mereka nampak tidak konformis. Sementara seperti yang diungkapkan oleh Koentjaraningkat (1999)[2] bahwa dalam masyarakat Jawa mengutamakan tingkah laku dan adat sopan santun terhadap sesama dan sangat berorientasi kolateral dan mereka harus mengembangkan sikap tenggang rasa dan mengintesifkan solidaritas. Orang hidup harus sesuai dengan peraturan moral, harus mampu melawan dan menunda terpenuhinya kebutuhan diri, hal ini dapat menimbulkan konflik tersendiri bagi orang berbakat.

Kesulitan untuk mengembangkan diri bagi orang berbakat menjadi lebih besar pada perempuan berbakat dalam budaya Jawa, karena dalam budaya Jawa antara laki-laki dan perempuan mendapat perlakuan dan tuntutan yang berbeda, secara cukup menyolok. Keluarga dan masyarakat Jawa mempunyai pandangan dan harapan yang berbeda pada anak laki-laki dan perempuan. Pandangan ini mempengaruhi cara perlakuan masyarakat dan pengasuhan orangtua, yang telah mereka  tanamkan sejak mereka bayi. Pembagian peran dalam masyarakat yang berhubungan dengan hal-hal ‘apa yang boleh dilakukan’ dan ‘siapa yang boleh melakukan’ mempengaruhi pemahaman mengenai partisipasi masing-masing jenis kelamin dalam kehidupan bermasyarakat. Bahkan hal ini menjadi sangat kuat di bidang pendidikan, biasanya anak laki-laki mendapat prioritas pendidikan yang lebih tinggi, dengan anggapan anak laki-laki kelak akan mendapat pekerjaan, peran dan kedudukan yang tinggi, sementara anak perempuan kelak akan mengasuh anak dan mengurus rumah tangga (Goode, 1997). Hal yang  senada dikatakan juga oleh De Jong (1976) yang menuturkan bahwa seperti layaknya dalam keluarga Jawa, lingkungan keluarga dan masyarakat juga lebih memprioritaskan kesempatan dan fasilitas bagi anak laki-laki untuk mengembangkan kemampuannya daripada anak perempuannya.[3]

Di dalam budaya Jawa peran suami dan istri mempunyai batasan yang jelas. Peran suami tidak lepas dari perannya sebagai laki-laki. Peran produksi merupakan peran yang berhubungan dengan kegiatan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup, merupakan peran untuk mencari nafkah bagi keluarganya di luar rumah. Peran sosial adalah peran yang dibawa dan dimainkan oleh seseorang dalam masyarakat, peran tersebut berkaitan dengan hidup sosial pada umumnya, seperti peran-peran dalam hukum, pemerintahan, agama, kepemimpinan lain dalam masyarakat.  Sedang peran reproduksi adalah peran yang dimainkan oleh kaum perempuan. Peran ini berhubungan dengan kegiatan untuk mempertahankan dan melangsungkan kehidupan, tetapi tidak berhubungan dengan menghasilkan uang, misalnya melahirkan dan mengurus anak, memasak, dan mengurus anggota keluarga, membersihkan rumah dan lain-lain. Dengan adanya perbedaan peran tersebut, kaum istri atau perempuan menjadi lemah, bodoh, dan miskin. Kaum perempuan tidak mempunyai kekuasaan untuk ikut mengambil keputusan, karena posisinya secara sosial yang tidak menguntungkan tersebut, sehingga tidak jarang hal ini membuat mereka dalam posisi yang rapuh (Goode, 1997).

Perbedaan peran laki-laki dan perempuan ini masih dapat dirasakan hingga kini dalam masyarakat Jawa, dan ini merupakan faktor yang sangat berpengaruh pada menurunnya jumlah perempuan berbakat yang mampu mengaktualisasikan dirinya.  Tidak jarang perempuan yang telah bersekolah hingga tamat perguruan tinggi, akhirnya setelah menikah tidak dapat mengembangkan kemampuannya, karena ia memilih peran reproduksi saja. Kalaupun mereka bekerja mereka memilih bidang pekerjaan yang bisa diterima sesuai dengan perannya sebagai perempuan. Hal ini sudah mulai  nampak pada saat mereka diminta untuk menentukan pilihan bidang profesi yang ingin ia lakukan bila mereka bekerja, pertimbangan akan kepantasannya sebagai perempuan menjadi sesuatu yang penting. Akibatnya tidak sedikit  perempuan yang potensi dan bakatnya tersembunyi. Perempuan berbakat seringkali menjadi  underachievers, artinya ia tidak mampu berprestasi sesuai dengan kemampuannya. [4]

2. Konstribusi Wanita Dalam Budaya Jawa

Wanita sebagai hamba Allah, memiliki peran amat besar dalam kehidupan  bermasyarakat  dan  bernegara.  Tanpanya,  kehidupan  tidak  akan berjalan semestinya. Sebab ia adalah pencetak generasi baru. Sekiranya di muka bumi ini hanya dihuni oleh laki-laki, kehidupan mungkin sudah terhenti beribu-ribu  abad  yang  lalu.  Oleh  sebab  itu,  wanita  tidak  bisa  diremehkan  dan  diabaikan,  karena  dibalik  semua  keberhasilan  dan  kontinuitas  kehidupan,  di situ ada wanita. Diantara konstribusi wanita adalah :

  1. Peranan Wanita dalam keluarga

Wanita adalah guru pertama bagi sang anak, sebelum dididik orang  lain. Sejak  ruh ditiupkan ke dalam  rahim, proses pendidikan  sudah dimulai. Sebab mulai  saat  itu, anak  telah mampu menangkap  rangsangan-rangsangan yang dberikan oleh  ibunya.  Ia mampu mendengar dan merasakan apa yang dirasakan  ibunya. Bila  ibunya  sedih  dan  cemas,  ia  pun  merasakan  demikian.  Sebaliknya,  bila ibunya merasa senang, ia pun turut senang. Hingga anak itu lahir dan hingga anak itu tumbuh dewasa. [5]

b.  Wanita dalam upacara adat

Wanita dituntut untuk mengabdi dan berbakti, baik keluarga, masyarakat maupun bangsa. Ia sadar bahwa tanpa berkarya yang berarti seseorang tidak akan pernah bisa hidup dalam arti yang sebenarnya. Ia berpendapat bahwa karya sangat bermanfaat bagi kualitas hidup itu sendiri, idealisme, perkembangan ilmu pengetahuan, cinta, dan kasih sayang. Dengan berkarya dan bekerja akan tercapai masyarakat yang adil dan makmur, gemah ripah loh jinawi.[6]

Peran serta wanita dalam upacara adat sedikit banyak mempunyai andil dalam upacara adat. Diantaranya dalam upacara pewayangan, wanita berperan sebagai sinden, disitu wanita sebagai pendamping dalam untuk melantunkan tembang-tembang dalam pewayangan.

3. Hasil budaya wanita jawa dalam hal pakaian

Hasil kebudayaan kebendaan yang merupakan peranserta dari wanita yaitu pakaian. Pengetahuan menenun untuk membuat pakaian sudah dikenal sejak zaman kebudayaan Batu Baru atau Neolitikum dengan dtemukan alat-alat dari batu untuk pemukul kulita-kulita kayu untuk dijadikan serat yang kemudian ditenun.

Pada masa Hindu-Budha telah disebutkan bermacam-macam kain, juga dalam sastra kuno serta berita asing dalam pembuatan pakaian, baik dari bahan produksi sendiri atau impor. Para wanita kemudian mengolah kain itu dengan menenun ataupun membatik kain itu sehingga bisa dikenakan.

Setelah masuk Islam, kaum wanita memakai kain yang ditarik ke atas dan dililitkan dengan kuat untuk menutupi bagian dadanya. Di jawa dan Lombok, hingga bagi sarung yang dililitkan ialah selendang yang biasanya diletakkan diatas dada dengan kedua ujungnya dilepaskan di atas dada. [7]  

D. Kesimpulan

Kedudukan wanita dalam kebudayaan Jawa kurang begitu dihargai dan dihormati, dikarenakan wanita merupakan makhluk yang lemah dan tidak mempunyai keunggulan apa-apa. Dalam perkembanganya wanita mulai bisa membuktikan bahwa mereka bukan seperti yang diasumsikan, dan terbukti muncul perjuang pejuan wanita seperti Cut Nyak Dien, RA Kartini, dan lain-lain.

Konstribusi wanita dalam budaya Jawa :

  1. Peranan wanita dalam keluarga : guru pertama bagi sang anak.
  2. Wanita dalam upacara adat
  3. Hasil budaya wanita Jawa dalam hal pakaian
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Interelasi Nilai Jawa dan Islam dalam Bidang Sastra

INTERRELASI NILAI JAWA DAN ISLAM DALAM BIDANG SASTRA

Oleh : Fakhruddin Zuhri

  1. I. PENDAHULUAN

Sastra sebagai istilah yang menunjuk pada suatu ilmu dengan bahasan yang luas, yang meliputi teori sastra ( membicarakan pengertian-pengertian dasar tentang sastra, unsur-unsur yang membentuk suatu karya sastra, jenis-jenis sastra dan perkembangan pemikiran sastra ), sejarah sastra ( membicarakan dinamika tentang sastra, pertumbuhan atau perkembangan suatu karya sastra, tokoh-tokoh dan cirri-ciri dari masing-masing tahap perkembangan suatu karya sastra).

Sastra dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta, berasal dari akar kata ‘sas’, yang dalam kata kerja turunan berarti ‘mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk/intruksi’. Akhiran ‘tra’ menunjuk pada alat, sarana, sehingga sastra berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran. Biasanya kata sastra diberi awalan ‘su’ ( menjadi susastra ). Su artinya ‘baik’, indah, sehingga istilah susastra berarti pengajaran atau petunjuk yang tertuang dalam suatu tulisan yang berisi hal-hal yang baik dan indah, atau dengan kata lain, ‘belles-letters’ ( tulisan yang indah dan sopan ).[1]

 

Sebagai bahan dasar sastra (kesusasteraan) adalah bahasa. Bahasa yang digunakan dalam kesusasteraan memang berbeda dengan bahasa keilmuan maupun bahasa yang digunakan sehari-hari.

Bentuk karya sastra juga ada beberapa macam, meliputi; (1) Karya sastra yang berbentuk prosa, (2) karya sastra yang berbentuk puisi dan (3) karya sastra yang berbentuk drama.

Bicara mengenai sastra tidak lepas dari fungsi dan sifatnya. Karya sastra lebih berfungsi untuk menghibur dan sekaligus memberi pengajaran sesuatu terhadap manusia. Sastra juga berfungsi untuk mengungkapkan adanya nilai keindahan (yang indah), nilai manfaat (berguna), dan mengandung nilai moralitas (pesan moral).[2]

II. PERMASALAHAN

 

 

  1. Perkembangan Sastra pada masa Hindu Budha
  2. Perkembangan Sastra Hasil Interrelasi Islam dan Jawa
  3. Periodesasi Perkembangan Sastra Pada Masa Kerajaan Demak, Pajang dan Mataram

III. PEMBAHASAN

 

  1. Perkembangan Sastra pada masa Hindu Budha

Karya sastra yang berbentuk puisi merupakan karya sastra yang paling tua di Indonesia. Tidak hanya di Nusantara, juga di Jawa karya sastra yang paling tua adalah puisi (lama) yang lazim disebut mantra. Setelah itu muncul parikan dan syair/wangsalan, yang di Jawa dikenal dengan ‘macapat’.

Mantra dipakai untuk berhubungan dengan religiositas manusia, terutama dalam berhubungan dengan hal-hal yang gaib/supranatural (termasuk Tuhan). Mantra ini dibuat untuk mempermudah manusia berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Agar seseorang mudah dalam melaksanakan permohonannya kepada Tuhan, maka diucapkan mantra-mantra.[3]

Mantra-mantra ini dianggap mengandung daya sakral/daya linuwih, sehingga tidak sembarangan orang dapat mengucapkannya. Hanya orang-orang tertentu (terpilih karena memiliki daya linuwih) sajalah yang diperbolehkan mengucapkannya, seperti seorang dukun, ‘orang pinter’ (memiliki daya linuwih), dan sebagainya.

Pengucapan mantra biasanya dibarengi dengan upacara ritual dengan sesaji dan dengan sikap tertentu yang menunjukan sikap hormat terhadap sasaran permintaan/permohonan (Tuhan) atau makhluk ghaib lainnya. Pengucapan mantra yang dibarengi dengan sikap tertentu dan dengan upacara ritual, dan sesaji akan melahirkan/mendatangkan kekuatan (power) gaib.

Mantra mengandung kekuatan bukan hanya dari struktur kata-katanya, tetapi terlebih dari struktur batinnya. Jika dilihat dari sifat sakralnya, maka hanya orang-orang tertentu saja yang dapat/bisa memiliki hak mewarisi kepandaian bermantra sekaligus dapat memiliki dan menggunakannya.[4]

Setiap tradisi di setiap suku bangsa Indonesia memiliki konsep bagaimana orang berhubungan dengan hal-hal yang gaib (suprantural) seperti mantra. Mantra pada prinsipnya untuk permohonan, baik permohonan yang mengandung (niat/kehendak) positif maupun negativf. Mantra untuk keperluan kebaikan (nilai positif) seperti mantra (ilmu) pengasihan, permohonan agar turun hujan, dan sebagainya. Mantra untuk keperluan jahat (negatif) seperti mantra untuk menjalankan pencurian, ilmu untuk mencederai seseorang dengan santet, tenung, teluh dan sebagainya.

Selain mantra, karya sastra yang berbentuk puisi (puisi lama) yang dikenal di Indonesia adalah pantun dan syair. Jenis-jenis puisi lama lainnya adalah gurindam, talibun, tersina dan sebagainya yang memiliki struktur yang prinsip-prinsipnya sama dengan struktur pantun dan syair.

Dalam tradisi budaya Jawa, karya sastra yang menyerupai pantun dan syair adalah parikan dan wangsalan. Parikan merupakan puisi berupa pantun model Jawa, yang hanya ada saran bunyi pada dua baris yang lazim disebut sampiran. Sementara itu, wangsalan berupa: dua baris pertama tidak hanya merupakan saran bunyi, tetapi merupakan teka-teki yang akan terjawab pada unsur-unsur isinya.

Wangsalan sendiri memiliki banyak macamnya, diantaranya yaitu yang menjadi satu  dalam sebuah tembang. Contohnya :

Sinom

Jamang wakul Kamandaka,
kawengku ing jinem wangi,
kayu malang munggeng wangan,
sun wota sabudineki,
roning kacang wak mami,
yen tan panggih sira nglayung,
toya mijil sing wiyat,
roning pisang leash ing wit,
edanira tan waras dening usada.

Sedangkan untuk parikan contohnya adalah :

Tjengkir wungu, wungune ketiban ndaru. Wis pestimu, kowe pisah karo aku.

Perbedaan yang mendasar antara wangsalan dan parikan, terletak pada maksud. Jika wangsalan mengandung maksud, parikan tidak mengandung maksud.

 

  1. Perkembangan Sastra Hasil Interrelasi Islam dan Jawa

Maksud keterkaitan antara Islam dengan karya sastra Jawa adalah keterkaitan yang bersifat imperative moral atau mewarnai. Islam mewarnai dan menjiwai karya-karya sastra Jawa baru, sedangkan puisi (tembang/sekar macapat) dipakai untuk sarana memberikan berbagai petunjuk/nasehat yang secara subtansial merupakan petunjuk/nasehat yang bersumber pada ajaran Islam.

Hal ini terjadi karena para pujangga tersebut jelas beragama Islam. Kualitas keislaman para pujangga saat ini tentunya berbeda dengan kualitas saat sekarang ini. Jadi, para pembaca seharusnya menyadari bahwa pengetahuan ajaran Islam saat itu (abad 18-19) belum sebanyak seperti sekarang ini, sehingga dalam menyampaikan petunjuk/nasehat para pujangga melengkapi diri dari kekurangannya mengenai pengetahuan ke-islaman dengan mengambil hal-hal yang dianggap baik dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Artinya, munculnya tembang/sekar macapat ini berbarengan dengan munculnya Islam di Jawa, yaitu setelah kejatuhan kerajaan Majapahit yang hindu.

Dengan kata lain, Islam mewarnai dan menjiwai karya-karya sastra para pujangga keraton Surakarta sehingga semua karya-karya sastranya itu berupa puisi yang berbentuk tembang/sekar Macapat.

Istilah ‘interelasi’ (dalam topik) artinya Islam di-Jawakan, sedangkan Jawa di-Islamkan. Walaupun demikian, warna Islam terlihat sekali dalam substansinya, yaitu :

  1. Unsur ketaukhidan (upaya mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa)
  2. Unsur kebajikan (upaya memberikan petunjuk/nasehat) kepada siapapun (petunjuk agar berbuat kebajikan dan petunjuk untuk tidak berbuat tercela).

 

Maksud dari keterkaitan antara Islam dengan karya-karya sastra Jawa adalah keterkaitan yang sifatnya imperative moral. Artinya, keterkaitan itu menunjukkan warna keseluruhan/corak yang mendominasi karya-karya sastra tersebut. Karya-karya sastra Jawa adalah karya sastra para pujangga keraton Surakarta yang hidup pada zaman periode Jawa baru yang memiliki metrum Islam. Memiliki corak jihad, masalah ketauhidan, moral/perilaku yang baik dan sebagainya.

  1. Periodesasi Perkembangan Sastra Pada Masa Kerajaan Demak, Pajang dan Mataram

Periodisasi Sastra jawa karya Padmosiekotjo itu sebagai berikut :
a) Pada zaman hindu ( Sebelum zaman Majapahit )

Nama pujangga dan hasil karyanya pada periode ini misalanya Resi Adiyasa dengan karyanya Mahabarata, Empu Kanwa dengan Arjunawiwaha dan Empu Tan Akkung dengan Karyanya Lubdaka.

b) Pada Zaman Majapahit

Nama pujangga pada periode ini misalnya Empu Prapanca dengan karyanya Nagarakertagama dan Empu Tantular dengan karyanya Sutasoma.

c) Pada Zaman Islam ( Zaman Demak Dan Pajang )

Nama pujangga pada periode ini misalnya Sunan Bonang dengan karyanya Suluk Wijil, Sunan Panggung dengan karyanya Malangsumirang dan Pangeran Karanggayam dengan karyanya Nitisruti.

d) Pada Zaman Mataram

Nama pujangga pada periode ini misalnya Sultan Agung dengan karyanya Sastra Gending, Pangeran Adilangu dengan karyanya Babad Majapahit, Sunan Pakubuwan V dengan karyanya Serat Centhini, dan R. Ng Renggawarsita dengan karyanya Sabdajati.

e) Pada Zaman Sekarang ( Mulai Abad XX )

Nama pujangga pada periode ini misalnya Ki Padmasusastra dengan karyanya Tatacara, R. M. Sulardi dengan karyanya Sera Riyanta dan M. Sukir dengan karyanya Abimanyu Kerem.[5]

Sastra pada masa Kerajaan Pajang memiliki identitas yang khas, yakni budaya yang bercorak ortodoks jika dibandingkan dengan budaya yang ada di dalam pedalaman, yang dalam banyak hal masih kental bercampur dengan elemen-elemen Hinduisme. Hal ini tampak dari karya sastra yang dihasilkan oleh ulama yang di samping posisinya sebagai juru dakwah juga membuat karya tulis. Sastra ini juga memiliki kaitan erat dengan proses perkembangan kehidupan keagamaan karena pada dasarnya kehidupan sehari-hari masyarakat tak dapat dilepaskan dari kerangka agama.[6]

Nah, kemudian proses islamisasi yang mulai masuk kepedalaman, maka terjadi pula proses islamisasi sastra pedalaman yang semula bercorak hindu sentries menjadi berbau keisalaman, meskipun pada akhirnya coraknya merupakan perpaduan antara ajasan Islam dengan elemen-elemen mistik yang juga berlaku dikalangan Hindu.

Ajaran-ajaran budi luhur yang terdapat dalam sastra Jawa kemudian mengkristal menjadi suatu pandangan hidup kejawen yang bercorak sinkretis, dengan penampilan yang lebih menekankan pada substansi ajaran mistik, tetapi dalam banyak hal kurang suka pada unsur yang legalistik semacam syari’at.  

IV. KESIMPULAN

 

Jadi sastra pada masa hindu budha kita kenal dengan yang namanya mantra. Mantra tersebut hanya boleh dibaca atau diucapkan oleh orang yang dianggap memiliki daya linuwih saja. Namun karya sastra itu tidak hanya berupa mantra, tetapi sudah berkembang, ada yang namanya pantun atau syair, yang lebih dikenal pada saat itu dengan sebuan parikan dan wangsalan.

Keterkaitan antara Islam dengan karya-karya sastra Jawa adalah keterkaitan yang sifatnya imperative moral. Artinya, keterkaitan itu menunjukkan warna keseluruhan/corak yang mendominasi karya-karya sastra tersebut.

Paham kejawen yang memiliki kesejajaran dengan tasawuf mistik merupakan realitas masyarakat Jawa yang memiliki pengikut dan perkembangannya amat tergantung kepada seberapa jauh apresiasi generasi penerus terhadap nilai-nilai masa lalu yang ada dalam ajaran sastra pedalaman sebagaimana adanya.

Periodisasi Sastra jawa karya Padmosiekotjo itu sebagai berikut :

a) Pada zaman hindu ( Sebelum zaman Majapahit )
b) Pada Zaman Majapahit
c) Pada Zaman Islam ( Zaman Demak Dan Pajang )
d) Pada Zaman Mataram

e) Pada Zaman Sekarang ( Mulai Abad XX )

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Interelasi Nilai Jawa dan Islam dalam Bidang Kepercayaan dan Ritual

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Islam dan Budaya Jawa

Dosen Pengampu : Naily Anafah, M.Ag

Disusun Oleh: Fuzi rahmawati dan Moh khanafi


I. PENDAHULUAN

Sejarah Islam di Jawa berjalan cukup lama. Selama perjalanan tersebut, banyak hal yang menarik dicermati, dan terjadi dialog budaya antara budaya asli Jawa dengan berbagai nilai yang datang dan merasuk kedalam budaya Jawa. Proses tersebut memunculkan berbagai varian dialektika, sekaligus membuktikan elastisitas budaya Jawa. Pada saat agama Hindu-Budha datang, memunculkan satu varian dialektika bercorak Hindu-Budha dengan corak khusus pengaruh budaya India. Demikian juga saat islam datang dan berinteraksi dengan budaya jawa, melebur menjadi satu. Dalam hal ini ada dua corak yang tampak dipermukaan, yakni Islam mempengaruhi nilai-nilai budaya Jawa dan Islam dipengaruhi oleh budaya Jawa.[1]

Dalam kesempatan ini, penulis hanya akan membahas sedikit tentang interrelasi nilai jawa dan islamdalam bidang kepercayaan dan ritual.

II. PERMASALAHAN 

  1. Keyakinan yang berkembang dari hasil interelasi
  2. Respon Budaya Jawa Terhadap Islam
  3. Respon Islam terhadap budaya Jawa

 

III. PEMBAHASAN  

A. Keyakinan yang Berkembang dari Hasil Interrelasi

Setiap agama dalam arti seluas-luasnya tentumemiiki aspek fundamental, yakni aspek kepercayaan atau keyakinan, terutama kepercayaan terhadap sesuatu yang sakral, yang suci atau yang ghaib. Dalam agama Islam aspek fundamental itu terumuskan dalam istilah aqidah atau keimanan, sehingga terdapatlah rukun iman yang didalamnya terangkum hal-hal yang harus dipercayai/di imani oleh muslim.

Yang termasuk rukun iman adalah iman kepada Allah, iman kepada Malaikat, iman kepada para Nabi, iman kepada kitab suci, iman kepada hari akhir dan iman kepada qodho dan qodar. Namun demikian, diluar semua itu masih terdapat unsur-unsur keimanan yang lain yang juga harus dipercayai.

Kepercayaan-kepercayaan dari agama Hindu, Budha maupun kepercayaan animisme dan dinamisme dalam proses perkembangan Islam itulah yang berinterrelasi dengan kepercayaan-kepercayaan dalam islam.

Ritual-ritual yang dibuat atau dipakai orang –orang jawa islam yang masih disesuaikan dengan kebiasaan Hindu-Budha nya, yaitu seperti adat mitoni (memperingati 7 bulan kehamilan) memperingati orang mati dengan ritual doa seminggu, 40 hari, nyatos, nyewu dan mendak, ada adat selamatan, gerebek suro nyandran, kliwonan sedekah bumi, nyekar (ziarah kubur) dan masih banyak adat-adat kebiasaan islam lain yang dihubungkan dengan budaya hindu-budha.

Pada aspek ketuhanan, prinsip ajaran tauhid Islam telah berkelindan dengan berbagai unsur Hindu Budha maupun kepercayaan primitif. Sebutan Allah dengan berbagai nama yang terhimpun dalam asma` al husna telah berubah menjadi Gusti Allah, Gusti kang Murbeng Dumadi (al Khaliq), ingkang Maha Kuwaos (al Qadir), ingkang Maha Esa (al Ahad), ingkang maha suci, dll. nama-nama itu bercampur dengan nama dari agama lain, namun demikian, dalam kehidupan sehari-hari orang jawa lebih terbiasa dengan menyebut Gusti Allah, sehingga orang jawa sudah terbiasa mengucap ”Bismillah” ketika akan memulai pekerjaan apapun yang baik. Demikian juga ucapan “Ya Allah Gusti” ketika berdoa, “astagfirullah” ketika merasa kecewa dan lain sebagainya.

Namun, penghayatan tentang prinsip tauhid itu akan berbeda tatkala pemahaman tentang ketuhanan itu masuk dalam dimensi mistik bercorak pantheistic. Terdapatlah sebutan hidup (urip), sukma, sehingga Tuhan Allah disebut sebagai Hyang Maha Hidup, sukma kawekas yang mengandalkan bahwa tuhan sebagai dzat yang maha hidup, yang menghidupi segala alam. Berkaitan dengan sisa-sisa kepercayaan animisme dan dinamisme, kepercayaan mengesakan Allah itu sering menjadi tidak murni oleh karena tercampur dengan penuhanan terhadap benda-benda yang dianggap keramat, baik benda mati/ hidup.[2]

Kepercayaan terhadap mahluk jahat tidak saja ada pada agama Islam, tetapi juga ada dalam agama Hindu maupun kepercayaan primitif. Dalam Islam makhluk jahat itu disebut syaitan, yang dalam jawa disebut setan, dan pemimpin setan disebut iblis, ada juga jin yang termasuk dengan golongan jahat, tetapi ada yang dapat dimanfaatkan untuk membantu manusia, sedangkan pada agama hindu jenis mahluk jahat/roh-roh jahat sebagai musuh Dewa, antara lain warta musuh Dewa Indra.  Roh jahat yang lebih rendah derajatnya dari musuh dewa disebut raksa, yang bisa menjelma menjadi binatang/manusia dan roh jahat pemakan daging jenazah adalah picasa.

Menurut keyakinan islam, orang yang sudah meninggal dunia, ruhnya tetap hidup dan tinggal sementara di alam kubur/ alam Barzah, sebagai alam sebelum manusia memasuki alam akhirat, hanya saja menurut orang jawa, arwah orang-orang tua sebagai nenek moyang yang meninggal dunia berkeliaran disekitar tempat tinggalnya, atau sebagai arwah leluhur menetap di makam. Mereka masih mempunyai kontak dengan keluarga yang masih hidup sehingga suatu saat arwah itu nyambagi/ datang ke kediaman anak keturunan, roh-roh yang baik yang bukan roh nenek moyang/ kerabat disebut dayang, baureksa, atau sing ngemong. Dayang dipandang sebagai roh yang menjaga dan mengawasi seluruh masyarakat desa, dari sinilah kemudian timbul upacara bersih desa, termasuk membersihkan makam-makam disertai dengan kenduren maupun sesaji. Disisi lain atas dasar kepercayaan Islam bahwa orang yang meninggal perlu dikirimi do’a, maka muncul tradisi kirim dongo (do’a), tahlilan tujuh hari, 40 hari, setahun dan seribu hari.[3]

Suku-suku bangsa indonesia dan khususnya suku jawa sebelum kedatangan pengaruh Hinduisme telah hidup teratur dengan religi animisme- animisme sebagai akar spiritualitasnya dan hukum adat sebagai pranata kehidupan sosial mereka.Adanya warisan hukum adat menunjukkan bahwa nenek moyang suku bangsa indonesia asli telah hidup dalam persekutuan-persekutuan desa yang teratur, dan mungkin dibawa pemerintahan atau kepala adat desa.

Sebagian besar orang Indonesia mengaku beragama islam, sikap keagamaan sehari-hari yang mereka hayati, dijiwai dalam batinnya oleh agama alsi Indonesia yang kaya raya isinya, yang dipelihara dengan khusuk yang tidak mau dirombak oleh agama asing.

B. Respon Budaya Jawa Terhadap Islam

Islam di jawa tidak lepas dari peranan walisongo. Walisongo  adalah tokoh-tokoh penyebar islam di Jawa abad 15-16 yang telah berhasil mengkombinasikan  aspek-aspek sekuler dan spiritual dalam memperkenalkan islam pada pada masyarakat. Mereka secara berturut-turut adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Boning, Sunan Kalijaga, Sunan Drajad, Sunan Giri, Sunan Kudus sunan Muria, Sunan Gunung Jati. Wali dalam bahasa inggris pada umumnya diartikan sain, sementara songo dalam bahasa jawa berarti sembilan. Diduga wali yang dimaksud lebih dari sembilan, tetapi agaknya bagi masyarakat jawa angka sembilan mempunyai makna tersendiri yang cukup istimewa. Para santri jawa berpandangan bahwa walisongo adalah pemimpin umat yang sangat saleh dan dengan pencerahan spiritual religius mereka, bumi jawa yang tadinya tidak mengenal agama monotheis menjadi bersinar terang.

Pulau Jawa selalu terbuka bagi siapapun yang masuk. Orang jawa terkenal ramah sejak dulu dan siap menjalin kerjasama dengan siapapun. Termasuk ketika pedagang dan alim ulama` yang bertubuh tinggi besar, hidung mancung dan berkulit putih kemerahan. Mereka adalah para pedagang dan ulama` dari tanah timur tengah. kedatangan mereka ternyata membawa sejarah baru yang hampir merubah jawa secara keseluruhan.

Agama Islam masuk ke Jawa sebagaimana Islam datang ke Malaka, Sumatra dan Kalimantan.[4] Bukti berupa adanya nisan raja-raja Aceh yang beragama Islam menunjukkan bahwa Islam  telah barkembang di kesultanan Aceh pada abad ke13 M, jadi bisa diperkirakan mungkin Islam telah datang ke Indonesia sejak abad itu/bahkan sebelumnya.[5]

Agama tauhid ini telah berkembang di Jawa, kaum pedagang dan nelayan banyak terpikat oleh ajaran yang mengenalkan tuhan Allah SWT ini. Salah satu benda yang baru bagi orang jawa adalah nisan berukir kaligrafi seperti pada batu nisan di Leran, Gresik.pada batu nisan ini tertulis nama Fatimah binti Maimun wafat tahun 1082. Orang jawa sendiri pada zaman itu masih jarang memberi petanda batu nisan bagi orang ynag meninggal, apalagi yang mewah. Islam dijawa semakin meluas lagi seiring dengan para ulama` yang selalu giat menyebarkan agama Islam.[6]

Bagi orang jawa hidup ini penuh dengan upacara, baik upacara-upacara yang berkaitan dengan lingkungan. Hidup manusia sejak dari keberadaannya dari perut ibu, lahir, anak-anak, remaja, dewasa, sampai saat kematiannya atau upacara-upacara dalam kegiatan sehari-hari dalam mencari nafkah. Secara luwes islam memberikan warna baru pada upacara-upacara itu, diantaranya kenduren atau selametan, mitoni, sunatan dll.[7]

Di Jawa penyebaran agama Islam harus berhadapan dengan dua jenis lingkungan budaya kejawen, yaitu lingkungan budaya istana yang telah menjadi canggih dengan mengolah unsur-unsur Hinduisme dan budaya pedesaan (wong cilik) yang tetap hidup dalam animisme dan dinamisme dan hanya lapisan kulitnya saja yang terpengaruh oleh Hinduisme, dari perjalanan sejarah pengalaman di jawa tampak bahwa islam sulit diterima dan menembus lingkungan budaya jawa istana yang telah canggih dan halus itu. Namun ternyata islam diterima secara penuh oleh masyarakat pedesaan sebagai peningkatan budaya intelektual mereka.[8]

C. Respon Islam terhadap budaya Jawa

 

Agama Islam mengajarkan agar para pemeluknya melakukan kegiatan-kegiatan ritualistic tertentu, yang dimaksud kegiatan ritualistic adalah meliputi berbagai bentuk ibadah sebagaimana yang tersimpul dalam rukun Islam, yakni syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Khusus mengenai shalat dan puasa wajib di bulan ramadhan, terdapat pula shalat-shalat dan puasa-puasa sunnah. Intisari dari shalat adalah do’a oleh karena arti harfiah shalat juga do’a yang ditujukan kepada Allah SWT, sedangkan puasa adalah suatu pengendalian nafsu dalam rangka penyucian rohani.[9]

Sebagai institusi pendidikan, pesantren, adalah wujud kesinambungan budaya Hindu-Budha yang di islamkan secara damai. Lembaga GURU CULA juga ditemuka pada masa pra-Islam di Jawa. Lembaga ini pada saaat islam datang tidak dimusnahkan, melainkan dilestarikan dengan modifikasi substansi nuansa Islam.

Secara histiris, asal usul pesantren tidak dapat dipisahkan dari sejarah  pengaruh Walisongo abad 15-16 di Jawa. Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang unik di Indonesia.

Islam adalah agama damai yang tidak mengenal sistem kasta seperti pada masa Hindu-Budha. Namun pada realitanya terdapat beberapa golongan yaitu golongan santri, abangan dan priyayi. Walaupun sebenarnya golongan ini tidaklah untuk membedakan status sosial seseorang, namun penggolongan ini ada berdasarkan pemahaman mana yang lebih baik diantara mereka tentang Islam yang dianut di Jawa dahulu dan sekarang atau tingkat kekuatan mereka menjalankan ibadah agama Islam. Sebenarnya penggunaan istilah abangan, santri, dan priyayi dalam klasifikasi masyarakat Jawa dalam golongan agama adalah tidak tepat, karena ke tiga golongan yang disebutkan tadi tidak bersumber pada sistem klasifikasi yang sama karena hanya abangan dan priyayi yang termasuk dalam penggolongan dalam ibadah agama islam, sedangkan priyayi adalah suatu penggolongan sosial.[10]

Sebagian besar orang Jawa memeluk agama Islam, namun terdapat beberapa ragam dalam pengalaman ajaran Islam. Mereka mengaku orang Islam tetap dalam kategori umum, pengakuan semacam itu mereka sendiri dengan jelas membedakan antara para santri yaitu para orang muslim yang taatmenjalankan syariat dengan sungguh-sungguh dan para abangan yang tidak seberapa mengindahkan ajaran-ajaran Islam, sementara cara hidupnya lebih dipengaruhi oleh tradisi jawa pra Islam.[11]

Sedangkan priyayi menurut Robert Van Niel, terjadi dair para administrator, para pegawai sipil serta orang Indonesia yang agak baik pendidikannya dan agak berada, termasuk orang Jawa, baik di kota maupun di desa. Sampai ukuran tertentu mereka memimpin, mempengaruhi, mengatur/membimbing massa rakyat yang luas. Ia menyebut golongan ini elit. Adapun golongan priyayi mencakup paraanggota dinas administratif yaitu birokrasipemerintah serta para cendikiawan yang berpendidikan akademis. Mereka menempati kedudukan pemerintah dan tersusun menurut heirarki birokrasi mulai dair priyayi rendahan (seperti, juru tulis, guru sekolah, pegawai dll) sampai priyayi tinggi.[12]

Berbeda dengan stratifikasi horisontal, adapula klasifikasi masyarakat jawa yang didasarkan pada ukuran sampai dimana kebaktian agama islamnya/ukurankepatuhan seseorang dalam mengamalkan syariat. Pertama terdapat santri, orang muslim saleh yang memeluk agama Islam dengan sungguh-sungguh dan dengan teliti menjalankan perintah-perintah agama Islam sebagaimanayang diketahuinya sambil berusaha membersihkan akidahnya dari syirik yang terdapat didaerahnya. Kedua, terdapatlah abangan yang secara harfiah berarti ”yang merah”, yang diturunkan dari pangkal keatas abang (merah). Istilah ini mengenai orang muslim Jawa yang tidak seberapa memperhatikan perintah-perintah agama islam dan kurang teliti dalam memenuhi kewajiban- kewajiban agama. Cara hidupnya masih banyak dikuasai oleh tradisi pra Islam Jawa.

Jadi perbedaan antara santri dan abangan adalah diadakan bila orang digolongkan dengan mengarah kepada perilaku religiusnya, pengertian santri dan abangan dalam arti ini, dapat dianggap sebagai dua subkultur dengan pandangan dunia, nilai dan orientasi yang berbeda dalam kebudayaan jawa.  

IV. KESIMPULAN

 

 

 

Dari makalah diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Islam masuk di Jawa dengan cara damai yang diawali dari rakyat jelata hingga lambat laun masuk ke tingkat istana. Orang Jawa merespon dengan baik masuknya Islam ke Jawa. Karena Islam dengan mudah bersosialisasi dengan masyarakat Jawa. Orang-orang jawa terpikat dengan ajaran Islam yang mengenalkan ketauhidan/ keesaan Allah SWT. Islam bercampur dengan budaya Jawa karena Islam ditujukan untuk mempermudah penyebaran agamanya. Namun sampai saat ini budaya jawa masih melekat pada ajaran-ajaran islam yang masih sebagian besar dianut oleh orang jawa.

Islam di Jawa juga mengenal beberapa penggolongan tingkat ketaatan orang jawa dalam menjalankan ajaran Islam. Mereka disebut golongan santri dan abangan. Santri adalah golongan yang sangat taat pada syariat, sedangkan abangan adalah golongan masyarakat yang tidak terlalu memperhatikan perintah-perintah agama.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Kebudayaan Jawa Pra Islam

Disusun guna memenui tugas

mata kuliah ISLAM DAN KEBUDAYAAN JAWA
Dosen pengampu : Ibu Naili Anafah, M. Ag
Disusun oleh : Ahmad Syukron Ma’mun / 072211016
FAKULTAS SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG 2010

A. PENDAHULUAN

Agama- agama di Indonesia memiliki peran sangat panjang dalam kehidupan bermasyarakat. Indonesia sering disebut negara kaum beragama, religius, dibuktikan dari sekian banyak agama yang diyakini masyarakat. Secara faktual, agama di Indonesia berjumlah sangat banyak, dari agama yang sering disebut agama samawi (Yahudi, Kristen, dan Islam) hingga agama-agama lain seperti Hindu, Buddha, Konghucu, Sin-to, dan lain sebagainya. Jauh sebelum datangnya agama-agama besar seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha, bangsa Indonesia menganut kepercayaan kepada Tuhan (animisme dan dinamisme). Kepercayaan inilah yang oleh Karen Armstrong (2002) disebut monoteisme primitif, percaya kepada Tuhan yang Esa.

Menurut mereka, setiap materi memiliki kesamaan sifat dengan manusia. Sebagai contoh, api memiliki sifat yang sama dengan manusia. Api memiliki kekuatan untuk membunuh atau melenyapkan apapun dengan panasnya sebagaimana manusia mampu membunuh binatang dengan kekuatan tangannya. Karena itulah, api mempunyai ruh. Bagi manusia primitif, menyembah api adalah proses menghormati keberadaan api itu sendiri. Penyembahan tersebut dilakukan agar tidak terjadi kebakaran seperti kebakaran hutan, sedangkan kebakaran diyakini sebagai bentuk kemurkaan api. Selanjutnya, berkembanglah paham banyak tuhan, banyak roh, banyak dewa, atau banyak kekuatan ghaib. Setiap kawasan bumi, hutan, sungai, laut, atau bahkan ruang angkasa, semuanya diyakini memiliki kekuatan tersendiri

Manusia mulai menganalisa setiap peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Sebelumnya, manusia primitif mulai mengeluarkan teori-teori tentang hakikat benda atau materi. Ia mulai menggabungkan antara keberadaan ruh manusia dengan keberadaan benda lain seperti air, udara, api, dan tanah.

Animisme berkembang lebih awal daripada dinamisme. Animisme menitik beratkan pada perkembangan ruh manusia. Mulai dari sini, manusia primitif menyimpulkan bahwa setiap materi yang memiliki sifat yang sama, maka memiliki substansi yang sama pula. Jika manusia mati dan hidup, tidur dan terjaga, kuat dan lemah, diam dan bergerak, kemudian manusia diyakini memiliki ruh, maka pepohonan, binatang, laut, api, matahari, bulan, dan materi-materi lainnya pun memiliki ruh seperti manusia.

Agama Hindu sebenarnya bukanlah agama dalam arti yang biasa. Agama Hindu adalah suatu bidang keagamaan dan kebudayaan, yang meliputi zaman sejak kira – kira 1500 SM.hingga zaman sekarang. Didalam perjalanannya sepanjang abad – abad itu agama Hindu berkembang sambil berubah dan terbagi – bagi sehingga memiliki ciri – ciri yang bermacam – macam, yang oleh penganutnya kadang – kadang diutamakan, tetapi kadang – kadang tidak diindahkan sama sekali. Berhubungan dengan itu Govinda Das mengatakan bahwa agama Hindu sesungguhnya adalah suatu proses antropologis, yang hanya karena nasib yang ironis saja diberi nama agama.[1]

B. POKOK PEMBAHASAN

Yamg menjadi pokok pembahasan dalam makalah ini adalah:

  1. Jawa pada masa sebelum adanya agama-agama
  2. Zaman dinamisme animisme
  3. masa hindu dan budha

C. PEMBAHASAN

  1. Jawa pada masa sebelum adanya agama-agama

Jauh sebelum Islam datang, masyarakat Jawa telah memiliki pandangan hidup yang cukup mapan. Dalam bidang keagamaan masyarakat Jawa prahindu telah memiliki kesadaran keagamaan. Kesadaran keagamaan tersebut tampak pada keyakinan masyarakat Jawa terhadap kekuatan-kekuatan adikodrati yang mengatasi segala hal. Keyakinan ini mengantarkan masyarakat Jawa pada kesadaran kosmik dan nouminious atau kesadaran religiusitas.  Dua kesadaran tersebut merupakan kesadaran yang saling terkait, sebagaimana dua sisi mata yang saling mengisi yang kemudian mengendap menjadi kebudayaan Jawa dan menjadi “langit suci” segala aspek kehidupan masyarakat Jawa. Munculnya ritual slametan merupakan bukti konkret masyarakat Jawa dalam mengendapkan kesadaran ketuhanan yang terinstusionalisasikan. Kesadaran ini memiliki fungsi sosial yang luar biasa, yaitu dalam membangun ikatan sosial antar individu dalam masyarakat Jawa, serta mewujudkan keselarasan hidup. Etika patembayan (gotong royong) juga menjadi contoh lain yang juga bentuk kebudayan yang menghadirkan gambaran kosmologis Jawa dengan kesadaran nouminious tersebut. Sementara itu, Heire Gilden mengungkapkan bahwa kesadaran ketuhanan masyarakat Jawa sangat terkait dengan konsep sosial mereka, utamanya dalam membangun etika politik. Keraton sebagai penguasa tidak hanya sebagai kekuatan politik belaka, namun keraton juga merupakan sumber kekuatan kosmik yang dianugrahkan dzat adikodrati kepada salah satu manusia pilihannya. Kesadaran tersebut memunculkan konsep tentang raja dan dewa, yakni kesadaran tentang raja sebagai penguasa yang diberikan tugas untuk mengatur semua aspek kehidupan manusia yang harus dipatuhi dan diikuti oleh masyarakatnya.

Di daerah jawa telah ada agama-agama atau kepercayaan asli, seperti Sunda Wiwitan yang dipeluk oleh masyarakat Sunda di Kanekes, Lebak, Banten; Sunda Wiwitan aliran Madrais, juga dikenal sebagai agama Cigugur (dan ada beberapa penamaan lain) di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat; agama Buhun di Jawa Barat; Kejawen di Jawa Tengah dan Jawa Timur, agama-agama asli jawa tersebut didegradasi sebagai ajaran animisme, penyembah berhala / batu atau hanya sebagai aliran kepercayaan. 

2. Zaman dinamisme animism

Seperti yang kita ketahui, masyarakat jawa umumnya mempercayai roh-roh halus (kepercayaan animisme) dan benda-benda yang bertuah atau yang berkekuatan ghoib (kepercayaan dinamisme).  

a. kepercayaan Animisme

Ciri masyarakat jawa antara lain berketuhanaan. Sejak masa praejarah, suku bangsa jawa telah memiliki kepercayaan animisme, yaitu suatu kepercayaan tentang adanya roh atau benda-benda, tumbuh-tumbuhan, hewan dan juga manusia sendiri.[2] Semua yang bergerak di anggap hidup dan berkekuatan ghaib atau memiliki roh yang berwatak buruk maupun baik.[3] Dengan kepercayaan tersebut, mereka beranggapan bahwa disamping semua roh yang ada, terdapat roh yang paling kuat dari manusia. Dan agar terhindar dari roh –roh tersebut maka mereka menyembahnya, dengan jalan mengadakan upacara di sertai dengan sesaji.  

b. kepercayaan Dinamisme

 

. Definisi dari dinamisme memiliki arti tentang kepercayaan terhadap benda-benda di sekitar manusia yang diyakini memiliki kekuatan ghaib.

Dalam Ensiklopedi umum, dijumpai defenisi dinamisme sebagai kepercayaan keagamaan primitif yang ada pada zaman sebelum kedatangan agama Hindu di Indonesia. Dinamisme disebut juga dengan nama preanimisme, yang mengajarkan bahwa tiap-tiap benda atau makhluk mempunyai daya dan kekuatan. Maksud dari arti tadi adalah kesaktian dan kekuatan yang berada dalam zat suatu benda dan diyakini mampu memberikan manfaat atau marabahaya. Kesaktian itu bisa berasal dari api, batu-batuan, air, pepohonan, binatang, atau bahkan manusia sendiri.

Keberadaan paham atau aliran animisme dan dinamisme ini tidak terlepas dari sejarah bangsa Indonesia. Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa Hindu dan Budha telah hadir lebih awal dalam peradaban nusantara. Masyarakat kita telah mengenal kedua agama budaya daripada agama Islam. Namun, sebelumnya ada periode khusus yang berbeda dengan zaman Hindu-Budha. Masa itu adalah masa pra-sejarah. Zaman ini disebut sebagai zaman yang belum mengenal tulisan. Pada saat itu, masyarakat sekitar hanya menggunakan bahasa isyarat sebagai alat komunikasi.

Di zaman itulah, masyarakat belum mengenal agama. Mereka belum mengerti tentang baik dan buruk. Mereka juga belum mengerti tentang aturan hidup karena tidak ada kitab suci atau undang-undang yang menuntun kehidupan mereka. Tidak ada yang istimewa pada zaman ini kecuali kepercayaan primitif mereka tentang animisme dan dinamisme. Disebutkan oleh para sejarawan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari kawasan tengah benua Asia. Ada yang mengatakan bahwa mereka bersebelahan dengan masyarakat Tiongkok. Ada juga yang menyebut nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari kawasan selatan Mongol. Yang pasti, para sejarawan tersebut sepakat bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari kawasan Asia.

3. Masa hindu dan budha

Agama yang pertama masuk di Indonesia adalah hindu dan budha. Sejarah Perkembangan Agama Hindu Budha di Indonesia sangat menarik untuk di pelajari. banyak kebudayaan pada masa tersebut yang sampai sekarang masih ada dan masih sering kita lihat.

Indonesia juga mencapai puncak kejayaan masa-masa tersebut, mulai dari kerajaan sriwijaya, kerajaan majapahit, dan lain-lain. maka jika kita mempelajari kebudayaan hindu-budha mungkin tak cukup 1 tahun. kebudayaan dan sangat menarik, sangat berkesan, dan sangat berbudaya.

 

 

 

 

Sistem Kepercayaan

Dalam agama Budha terutama dalam system Mahayana menurut system wagniadatu menyebutkan dewa tertinggi adalah Adibudha dan tidak dapat digambarkan karena tidak berbentuk

 

Sidharta Gautama

Pendiri agama Budha adalah Sidharta Gautama yaitu seorang anak raja yang mendapat penerangan batin atau enliptenmen. Dia mengantakan bahwa dunia yang kita lihat adalah maya dan manusia adalah tidak berpengetahuan. Kehidupan manusia mengalami sansana atau hidup kembali sebagai manusia atau binatang. 

 

Ganesha

Ganesha adalah anak Siwa dengan Arwati. Dengan digambarkan berkepala gajah dan bertangan empat, pada dahinya juga terdapat mata ketiga. Dan pada setiap tangannya terdapat benda yang berbeda yaitu :

a) Tangan kanan bawah memegang patahan gadingnya

b) Tangan kanan atas memegang tasbih

c) Tangan kiri atas memegang Kapak

d) Tangan kiri bawah memegang mangkuk yang berisi manisan


Dewa Siwa

Dalam ajaran agama Hindu, Dewa Siwa (Çiwa / Shiva) adalah manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa sebagai pelebur, melebur segala sesuatu yang sudah usang dan tidak layak berada di dunia fana lagi sehingga segala ciptaan Tuhan tersebut harus dikembalikan kepada asalnya (Tuhan). 

Perkembangan agama Hindu di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh masuknya kebudayaan India ke Indonesia, yang terjadi kira – kira abad ke dua Tarikh Masehi, tetapi proses masuknya ini  masih diperdebatkan dibawa oleh siapa, karena waktu itu bahwa hubungan antara Indonesia dengan India dalam hal perdagangan,namun demikian dapat pula turut serta para pendeta dalam menyebarkan agama. Kebudayaan yang masuk ke Indonesia tidak hanya agama Hindu tetapi juga agama Budha.

Menurut Masroer Ch.Jb yang mengutip dari Rachmat Subagja dalam bukunya Agama Asli Indonesia, bahwa sejarah kedatangan agama Hindu di tanah Jawa mula – mula dipelopori oleh para pelaut India dan para Brahmana. Kaum Brahmana ini kemudian memperoleh kedudukan yang kuat dan menjabat sebagai penasihat raja serta melakukan upacara – uapacara keagamaan Abhiseka ( pertobatan ) dan Mahatmya ( menghidupkan adat ).[4] Sumber – sumber mengenai hal ini dapat dijumpai dalam prasati – prasasti dan candi – candi yang ada. Dan prasasti yang ada yaitu dari Canggal, Ratu Baka dan Dinaya.

D. Kesimpulan

Jauh sebelum Islam datang, masyarakat Jawa telah memiliki pandangan hidup yang cukup mapan. Dalam bidang keagamaan masyarakat Jawa pra-hindu telah memiliki kesadaran keagamaan. Kesadaran keagamaan tersebut tampak pada keyakinan masyarakat Jawa terhadap kekuatan-kekuatan adikodrati yang mengatasi segala hal. Keyakinan ini mengantarkan masyarakat Jawa pada kesadaran kosmik dan nouminious atau kesadaran religiusitas

Walaupun Hindu dan Budha belum menguasai bumi nusantara, banyak di antara mereka yang sudah melakukan proses ritual-ritual tertentu. Kepercayaan animisme dan dinamisme telah tumbuh dan berkembang pesat di sekitar lingkungan mereka. Dari kepercayaan inilah, mereka membangun sebuah masyarakat. Mereka mengangkat seorang kepala adat sebagai pemimpin. Baik pemimpin kemasyarakatan ataupun pemimpin dalam proses-proses ritual.

Perkembangan agama Hindu di Jawa tidak terlepas dari pengruh India yang masuk ke Indonesia dalam rangka hubungan dagang  yang sekaligus membawa kebudayaan mereka. Agama Hindu berkembang pesat karena pengaruh kerajaan – kerajaan yang ada       di jawa yang bercorak agama Hindu. Dengan otoritas kerajaan tersebut sehingga rakyanya mengikuti untuk menganut kepercayaan yang raja mereka anut, hal ini  sangat mendorong terhadap kemajuan dan perkembangan agama tersebut. Dalam bidang kebudayaan berbagai candi yang ditemukan di Jawa  menandakan bahwa semangat keagamaan telah tumbuh dan berkembang menjadi komponen yang penting dalam kehidupan masyarakat.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar